5/15/2014

Uniting.

Seharusnya sih, post saya yang ini jauh dari tema sepakbola yang terlalu sering saya bahas akhir-akhir ini. Tapi, kali ini, post ini tidak akan membahas mengenai bagaimana performa tidak baik Manchester United, atau mengenai siapa yang akan memenangkan Piala Dunia tahun ini, melainkan pada sebuah perhelatan besar yang selalu menyediakan momen spesial untuk siapapun, regardless apakah anda penggemar sepakbola atau bola basket, pendukung timnas manapun, orang kaya atau orang miskin, atau pria atau wanita: Piala Dunia.


Biar lebih dapat feel nya, coba sambil play lagu ini.


Buat saya, Brazil 2014 akan menjadi Piala Dunia keempat saya. Dimulai dari Korea-Jepang 2002 hingga yang terakhir di South Africa 2010. Dan buat saya, setiap turnamen ini dimulai, ada sebuah perasaan yang spesial yang tidak hanya melanda saya, tapi semua orang. Ketika anda berjalan ke pusat perbelanjaan dan melihat warna-warni bendera negara-negara yang berpartisipasi dalam sebuah kompetisi yang begitu megah ini, anda tidak mungkin menghindari dan tidak mungkin tidak ikut tenggelam dalam semarak olahraga ini. Bagi saya, ini bukan sekedar sebuah turnamen sepakbola, tapi  ini adalah sebuah pesta. Pesta untuk semua orang. Dan sebuah festival yang datang hanya sekali dalam empat tahun. Begitu semarak, universal, menegangkan dan disaat yang sama terasa begitu menyenangkan.

Mengapa begitu? Pertanyaan simpel, pada momen apa anda bisa duduk bersama orang tua dan orang-orang terdekat anda sambil menyaksikan sebuah pertandingan sepakbola, yang entah mereka mengerti atau mengenal siapa yang bermain, bisa bersama larut dalam teriakan atau kegembiraan sebuah kemenangan? Atau ketika anda bisa berkumpul bersama teman-teman yang mungkin sudah lama tidak anda temui dan berbincang over a glass of beer or anything, sambil merasakan ketegangan partai final? Saya mengalami itu setiap Piala Dunia berlangsung. That special: Uniting.

I’m not saying all these things from the perspective of a football fans, no. Tapi saya mengatakan ini semua dari mata seorang manusia yang merasakan bagaimana sebuah olahraga, sebuah perhelatan, bisa betul-betul menyatukan semua elemen masyarakat, tanpa memandang status, ras, agama, ataupun apapun yang selama ini bisa memisahkan. Dan saya betul-betul tidak bisa menunggu dan begitu antusias untuk menyambut perhelatan terbesar ini, beserta semua hal yang akan menghiasi kota ini, negara ini, dan segalanya selama satu bulan tersebut. Jadi, siapapun anda, bersiaplah untuk larut dalam sebuah pesta untuk semua, melalui sepakbola  Karna pada akhirnya, bukan hanya kemenangan tim terbaik yang di rayakan, tapi kebersamaan yang dirasakan yang akan menjadi kemenangan sejati.


We’re celebrating and we’re waving all our rags
We are all united even though we’re different flag
We are all on voice, one heart, one soul
HERE WE GO!
Der Um Jeito (We Will Find A Way)
“2014 FIFA World Cup Brazil” Official Anthem

Santana and Wyclef feat. Avicii

5/12/2014

Season Review

Semalam, sepakbola kembali menyaksikan bagaimana uang bisa membeli piala, ketika Vincent Kompany mengangkat trophy Barclays Premier League…………… Maaf, maksud saya, semalam Manchester City berhasil mengukuhkan diri sebagai juara liga dan sekaligus mengakhiri musim kompetisi 2013-2014 di Inggris. Oh iya, dan sekaligus mengakhiri mimpi pendukung tim Soang Merah, aduh salah lagi, maksud saya, Liverpool (dan Steven Gerrard (dan Luis ‘Cry Baby’ Suarez)), meraih gelar liga ke 19 mereka. Tapi fokus saya bukan pada dua tim itu, tapi pada tim terbaik (ketujuh) Inggris; Manchester United.
Sejujurnya, sangat menyakitkan ketika saya, seorang pendukung Manchester United, harus menyaksikan orang-orang berbaju biru langit mengangkat trofi yang musim lalu kami miliki, walaupun sejujurnya ada rasa bahagia dan lega pula ketika saya sadari yang mengangkatnya itu bukan seseorang dengan inisial depan S dan belakangnya teven Gerrard. Saya lebih merelakan trofi itu dimenangkan oleh those money grabbers, MAKSUD SAYA PEMAIN CITY, MAAFKAN KE-BIAS-AN SAYA YA, dibandingkan saya harus melihat Steven Gerrard dan kroni nya yang berparade dan memberikan fans-fans mereka hak untuk membacot di kampus. Aku rapopo.
Awal musim sejujurnya saya sudah memprediksi jika United akan mengalami musim yang sulit di bawah kepemimpinan, sekarang mantan, manajer baru, David Moyes. Walaupun beliau ditunjuk langsung oleh The Greatest British Manager of All Time, Sir Alex Ferguson, tapi banyak sangsi dan tanda Tanya mengenai kemampuannya memimpin tim sebesar United, melihat banyaknya kandidat lain yang memiliki rekam jejak lebih mengkilap dibandingkan Moyes, yang tersedia di pasar manajer Eropa. Tapi walaupun saya sudah mempersiapkan diri saya untuk musim yang buruk, tapi saya tidak mempersiapkan diri saya untuk finish posisi TUJUH. Saya mengira, sejelek-jeleknya musim yang diarungi United, setidak-tidaknya posisi 4 atau 5 adalah posisi terburuk yang bisa United dapatkan. Tujuh itu keterlaluan. Tapi semua orang yang terlibat dalam Manchester United Football Club itu sendiri harus mulai berkaca dan harus mengambil tanggung jawab dalam musim yang luar biasa mengecewakan ini, bukan David Moyes seorang.
Kekecawaan musim ini menurut saya barasal dari kegagalan David Moyes untuk mengontrol dan memotivasi pemainnya, kegagalan pemain untuk memotivasi diri mereka dan menghormati manajer mereka, serta kegagalan petinggi klub untuk melakukan pembelian yang tepat ketika bursa transfer dibuka. Ketiga hal ini, menurut saya, menjadi masalah yang muncul sepanjang musim ini berjalan. David Moyes, meskipun dengan sedekade pengalaman di Liga Inggris bersama Everton, gagal mendapatkan respect yang ia butuhkan untuk memotivasi pemainnya untuk mengeluarkan kemampuan terbaik mereka di lapangan untuk klub yang mereka bela. Diluar lapangan, muncul masalah indisipliner, yang di era Alex Ferguson tidak mungkin pernah terjadi. Kalaupun terjadi, pemain tersebut pasti sudah harus siap mengepak barang-barangnya untuk pindah ke klub lain. Memang secara taktis, saya melihat sisi inkonsistensi Moyes dalam meracik United. Fakta bahwa Moyes tidak pernah menurunkan starting lineup yang sama di dua pertandingan berturut-turut memang menjadi faktor yang cukup penting. Tapi yang mungkin orang-orang lain gagal untuk memahami adalah, David Moyes bekerja dengan skuad yang sudah mulai menua digabung dengan pemain yang kurang berpengalaman. It may not necessarily be a bad thing, pasti ada positifnya, tapi fakta ini memaksa Moyes harus pintar-pintar dalam mengatur timnya agar bisa tetap bugar dalam menghadapi empat kompetisi. Mungkin, ketakutan Moyes akan timnya kehabisan bensin sebelum musim berakhir menjadi boomerang ketika kebijakannya membuat timnya gagal menghasilkan hasil yang diinginkan, dan pada akhirnya memaksa United untuk memutus kontrak kerjanya jauh sebelum kontrak 6-tahun miliknya berakhir.
Pada era Sir Alex Ferguson, yang saya lihat sepanjang kurang lebih 14 tahun mendukung United, pemain yang selama ini dibeli selalu memiliki kriteria yang berbeda dibandingkan dengan pemain-pemain klub lain. Pemain-pemain United selama ini adalah tipikal pemain Britania Raya yang memiliki etos kerja yang kuat dan kemauan yang kuat, tidak ada pemain dengan teknik luar biasa atau sesuatu yang terlalu fancy. Lihat Fletcher, Carrick, Rooney, atau Berbatov, dulu, misalnya. Mereka bukan pemain seperti Xavi, Iniesta, Modric atau siapapun itu. Mereka adalah pemain dengan kualitas hebat, tapi bukan world class. Iya, saya memang berpendapat bahwa Rooney bukan pemain kelas dunia seperti Ronaldo atau Messi. Tapi mereka mampu untuk beradaptasi dan menyesuaikan diri mereka dengan taktik yang digunakan oleh Sir Alex saat itu. Digabungkan dengan kemampuan Sir Alex untuk memotivasi pemainnya, ia mampu membuat pemain-pemain dengan kualitas “Great” bergabung dalam sebuah tim dengan kualitas “Amazing”. Dan itu yang David Moyes gagal untuk lakukan. Ia memiliki pemain dengan kualitas, walaupun mungkin menurutnya, kualitasnya tidak seperti yang ia harapkan, dan gagal menyatukan kepala-kepala tersebut menjadi sebuah tim. Dan, sayangnya untuk Moyes, pemain-pemain tersebut gagal untuk self-motivate diri mereka sendiri sehingga pemain-pemain dengan kualitas “great” tersebut hanya mampu mengeluarkan setengah dari kemampuan mereka yang sebenarnya dan hanya menjadi sebatas pemain dengan kualitas “okay”. Dan itu mengapa posisi tujuh menjadi posisi United musim ini. Karna disitulah tim dengan kualitas pemain “okay” mengakhiri musim.
Masalah di Old Trafford an di AON Training Complex juga diperkeruh dengan ketidakmampuan seorang eksekutif klub, Ed Woodward, untuk menggantikan kursi panas lainnya di bangku direktur klub yang di tinggalkan oleh David Gill. David Moyes bukan satu-satunya orang yang menjadi pusat perhatian seluruh pendukung United ketika musim dimulai, Ed Woodward juga. Ketika David Gill, long serving director and one of the most respected person in European football, memutuskan untuk mundur, Ed Woodward memiliki tugas yang sama beratnya dengan tugas yang diemban oleh David Moyes. Bisa dibilang, kesuksesan United di bursa transfer pasca Peter Kenyon itu adalah tanggung jawab David Gill. Koneksi yang luas dan kemampuan bernegosiasi yang mumpuni membuat United (hampir) selalu mendapatkan pemain yang diinginkan. Dan ini membuat perhatian juga tertuju pada Woodward. Ketika United memilih David Moyes, banyak yang berpendapat bahwa Moyes harus mendapatkan pemain-pemain dengan kualitas yang luar biasa untuk membantunya dalam membangun tim United yang baru, sebuah Manchester United nya David Moyes. Daftar panjang pemain-pemain kelas dunia yang ingin didatangkan ke Old Traffor hanya sekedar menjadi daftar tanpa ada hasil. Satu-satunya tangkapan United di bursa transfer musim panas “hanya” seorang Moruanne Fellaini. Pemain bagus, tapi bukan yang berada di daftar teratas. Dengan harga keterlaluan mahal pula. Musim dingin, agak membaik, Juan Mata datang dengan harga yang sangat fantastis. Itu juga David Gill dan Sir Alex harus ikut turun tangan agar transfer ini terealisasi.  Imbasnya, David Moyes mengalami kesulitan dalam membangun tim yang ia harapkan. Ya, walaupun itu tidak bisa dijadikan alasan karna ia masih memiliki tim yang berhasil menjuarai liga dengan jarak 15 poin di musim sebelumnya.
Musim 2013-2014 akhirnya berakhir. Bagi seorang pendukung United seperti saya, ada rasa lega ketika akhirnya musim ini selesai dan bursa transfer musim panas akan datang. Manajer baru akan mengambil alih dan pastinya pemain baru juga akan datang. Harapan baru untuk musim depan sangat besar. Walaupun dengan sangat berat hati, saya harus membiasakan diri untuk tidak menonton Liga Champion, paling tidak untuk satu tahun kedepan, tapi ini membawa blessing in disguise bagi United, karna ini akan membuat United dapat fokus pada mengembalikan Liga Champions di musim berikutnya tanpa harus ter-distract oleh kompetisi lain yang pasti akan menuntut manajer berikutnya untuk menghemat tenaga atau melakukan rotasi berlebihan seperti yang dilakukan oleh Moyes, musim ini. Siapapun itu, entah Ryan Giggs tetap dipertahankan, Luis van Gaal atau siapapun, musim depan pasti akan menjadi sebuah musim yang sangat menantang. Tapi untuk sementara ini, ada baiknya saya mengucapkan selamat kepada juara liga musim ini, Manchester City. Sampai bertemu di musim depan. And we WILL be back!

Glory Glory Man United!

5/04/2014

284

Setelah saya sadari, ternyata sudah cukup lama juga ya saya tidak ngepost sesuatu di blog ini. Harusnya sih ada beberapa tulisan yang sudah saya post disini, tapi karna beberapa alasan, seperti memang saya rasa tidak cukup baik untuk di post, ataupun sampai yang paling cliché yaitu malas ngelanjutin tulisan yang sudah diketik mebuat blog ini semapt terbengkalai. Tapi diluar itu semua, kesibukan sebenarnya menjadi alasan utama mengapa akhirnya saya gak sempat untuk menuangkan emosi dan imajinasi saya di blog ini. Terutama di 2 bulan terakhir ini, hari-hari saya terasa sangat padat dengan banyak hal. Walaupun sejujurnya saya sangat menikmati kesibukan saya beberapa bulan terakhir ini. Dan minggu lalu menjadi puncak segala kesibukan itu, dan menjadi sebuah momen yang sangat special bagi saya.

Saya ingat sekali pembicaraan saya dengan salah seorang teman saya, yang kebetulan mejabat sebagai ketua himpunan program studi jurusan yang saya tempuh, mengenai rencana saya maju untuk mengepalai sebuah acara kampus yang sedang mencari kepala acaranya. Pembicaraan over a bowl of indomie goreng rendang itu masih melekat di benak saya seperti itu baru terjadi kemarin, walaupun tanpa saya sadari, itu terjadi di bulan November tahun lalu. Begitu cepat waktu berjalan tanpa kami sadari. Dan beberapa minggu setelah percakapan itu, saya secara resmi ditunjuk oleh himpunan untuk mempimpin acara tersebut. Membanggakan, sejujurnya, walaupun di mata beberapa orang, acara ini tidak sebesar yang saya anggap. Tapi tetap saja, bagi saya ini adalah sebuah kehormatan dan kebanggaan tersendiri untuk mempimpin acara kampus yang satu ini, karena bagi saya, potensi yang dimiliki acara ini begitu besar sehingga saya merasa terhormat diberi kesempatan ini. Dan sejak saat itu, kerja keras pun dimulai bagi saya. Mulai dari meyakinkan teman-teman saya untuk mau menerima jabatan coordinator divisi yang ada, proses konsepsi, pengorganisasian, mencari dana, hingga hal-hal kecil lain yang kerap mengisi hari-hari saya selama kurang lebih 6 bulan terakhir ini. Hal-hal kecil seperti ketika dalam satu hari saya harus menghadiri 2 kelas dan di saat yang sama ada beberapa rapat divisi yang harus saya ikut hadir, lalu ketika ada waktu senggang saya harus berdiskusi dengan teman-teman coordinator, lalu ditarik ke untuk rapat informal. Melelahkan. Tapi sangat menyenangkan. Dan begitu terus selama 6 bulan terakhir ini. Hingga akhirnya pada tanggal 28 April kemarin, semua kerja keras itu terbayar lunas ketika ratusan orang, bahkan mungkin seribu lebih orang, datang berlalu lalang menikmati acara saya dari pagi hingga penutupan yang begitu luar biasa. Tapi bagi saya, semua terasa begitu indah adalah ketika pada H min. 1, saya melihat ruang Gedung Serba Guna yang tadinya kosong, berubah perlahan, membentuk sebuah venue acara yang selama berbulan-bulan sebelumnya hanya menjadi bayangan di otak saya. Begitu luar biasa melihat teman-teman saya belalu-lalang bekerja saling membantu mempersiapkan semuanya. Buat saya, itulah saat dimana saya merasa paling bahagia.

Tapi diluar itu semua, apa yang saya ingin utarakan, sesuatu yang belum sempat saya bagi dengan siapapun, adalah perasaan saya secara pribadi mengenai keseluruhan persiapan hingga eksekusi acara. Bukan rahasia lagi bahwa memang melakukan hal seperti yang saya lakukan beberapa bulan terakhir adalah sesuatu yang sudah saya impikan sejak lama. Dan bukan rahasia lagi jika memang saya telah beberapa kali mencoba dan gagal. Dan begitu menempel di benak saya perkataan orang, bahkan beberapa teman saya, mengenai kegagalan saya dan bagaimana mereka membuat lelucon mengenai mimpi saya dan kegagalan saya. Sejujurnya, cukup menyakitkan ketika orang make fun of your dream, apalagi orang itu adalah orang yang anda kenal, dan sempat ikut turut dalam beberapa kali saya mencoba untuk meraih mimpi saya. Tapi selama ini saya hanya menyimpan itu semua dalam hati saya sambil berharap saya bisa mempunyai kesempatan untuk membuktikan kepada semua orang bahwa saya bisa. Dan kesempatan itu bisa saya dapatkan pada acara ini. Memang bukan acara yang besar, tapi setidaknya saya membuktikan bahwa saya bisa dan saya mampu. Saya bukan sekedar orang yang bermulut besar, atau pemimpi, tapi saya lebih dari itu. Saya mampu melakukan sesuatu yang nyata. Dan tanggal 28 itu adalah buktinya. Ya, saya dibantu oleh orang-orang yang luar biasa dalam prosesnya, saya akui, dan saya tidak malu mengatakannya. Tapi tanggal 28 kemarin, on a personal note, adalah sebuah bukti nyata bagi beberapa orang yang pernah mengatakan hal-hal yang tidak menyenangkan itu bahwa mereka salah. Dan lebih dari itu, ini bukan yang terakhir. Dan saya harap, mulai sekarang mereka bisa diam dan berhenti untuk run their mouth and make fun of me.

Terakhir, saya hanya ingin mengucapkan terimakasih untuk orang-orang yang telah bersama-sama membuat acara Festival of Nations 2014 sukses beyond expectation. Kedua wakil saya, Richard Lucky dan Dyah Ayu, yang ditengah kesibukannya masih mau membantu saya menahkodai acara ini. Sekretaris saya, Eme dan, orang yang paling saya percaya dan nyaman bekerja bareng, Nadira Wandari. Bendahara, Sabatina dan, one the best person I’ve ever worked with, Wynona. Para coordinator: Laras, Dito, Pasha dan Tesa, Dani, Ubi, Lulu, Vinca, Svida, Cynthia Sondang, Ridho, Indira, Day, dan para subkor serta secondman. Terimakasih atas semua kerja keras dan dedikasinya, saya berhutang banyak pada kalian. Dan untuk semua staff kepanitiaan yang lain, baik yang resmi maupun yang tidak resmi, yang telah membantu acara ini: TERIMAKASIH.. Kalianlah otak dari semua kesuksesan ini, dan keberhasilan ini adalah milik kalian. Tidak lupa untuk Nella dan Yani, yang telah berani mengambil resiko dan mempercayai saya untuk mempin acara ini, dan untuk segala bantuan dan dukungan mereka. Serta untuk seluruh pengurus Himpunan Mahasiswa Program Studi Ilmu Hubungan Internasional. Dan juga saya memohon maaf atas segala salah kata dan perbuatan yang mungkin saya lakukan selama beberapa bulan terakhir ini. Saya masiih belajar dan mungkin dalam proses belajar itu saya banyak melakukan kesalahan. Mohon maaf.

It has been an amazing ride, and I’m very happy that I went through everything with all of you.

Thank you.



3/03/2014

My World Cup Prediction #2: SPAIN



Balik lagi di My World Cup Prediction! Selamat datang di bagian kedua pembahasan (baca: kesotoyan dan kesoktauan saya) tentang tim-tim unggulan dan beberapa kuda hitam di turnamen sepakbola terbesar di dunia. Di bagian ini sejujurnya belum membuat saya excited karna masih akan membahas tim-tim besar yang memang kalaupun juara, ya sudah, no big surprise. Apalagi tim yang satu ini. Sangat membosankan jika mereka juara lagi. Siapa lagi kalau bukan Spanyol!




Tim yang berhasil merajai tiga turnamen besar dalam kurun waktu 6 tahun terakhir. Euro 2008, Piala Dunia 2010, dan Euro 2012 menjadi saksi kehebatan La Furia Roja di turnamen besar seperti ini. Dan sebagai juara bertahan memasuki Piala Dunia 2014 ini, menurut saya mereka adalah favorit kedua setelah Brazil, yang sudah saya bahas kans nya di artikel sebelumnya (kalau mau baca, tinggal scroll kebawah saja kok :p). Dipimpin oleh Vicente del Bosque, Spanyol seperti biasa akan diisi oleh segudang talenta kelas dunia, sekaligus segudang wajah-wajah tampan yang akan menjadi magnet tersendiri bagi para penonton wanita yang tentunya akan membuat para lelaki makin semangat nonton bola. Mari kita mulai saja daripada kita makin #salahfokus

Group



Bukan grup yang mudah sama sekali buat sang juara bertahan. Berada satu grup dengan Belanda, Chile, dan Australia bukanlah hal yang mudah buat Spanyol di Piala Dunia ini. Belanda tentunya akan menjadi ancama terbesar bagi La Furia Roja untuk lolos ke babak 16 Besar. Belanda yang gagal total di Euro 2012 lalu tentunya ingin menampilkan performa yang jauh lebih baik dibandingkan dengan performa mereka di Euro. Chile juga bisa menjadi batu sandungan buat Spanyol. Mungkin tidak setara Belanda, tapi mereka tidak bisa dianggap remeh. Kehadiran Alexis Sanchez bisa menjadi momok bagi Spanyol jika tidak hati-hati. Duo Juventus, Arturo Vidal dan Maurico Isla juga membuat tim ini tidak bisa dianggap remeh. Selain itu, kehadiran Australia tidak bisa dianggap sebagai pelengkap (well, sebenarnya sih bisa). Mungkin tidak segemerlap dulu, tapi Australia masih bisa membuat kerepotan. Tidak ada yang lebih berbahaya selain tim yang got nothing to lose. Dan untuk mempertahankan gelar mereka (yang saya harap tidak terjadi), mereka harus sebisa mungkin memastikan diri jadi juara grup, karna kalau tidak, mereka kemungkinan besar akan berhadapan dengan tim tuan rumah sekaligus favorit juara, Brasil. Final kepagian ini pastinya akan sangat berat buat Spanyol. Tapi kalapun mereka lolos juara grup dan lolos 16 besar, lawan berat juga menanti mereka. Prediksi saya, mereka akan berhadapan dengan juara dari grup neraka yang dihuni oleh Inggris, Italia, dan Uruguay. Jalan mereka ke Maracanã tidaklah mudah. Tapi Spanyol sudah membuktikan bahwa mempertahankan gelar internasional bukanlah tidak mungkin. 



Komposisi Tim

Tiga gelar internasional dalam 6 tahun sudah menjadi bukti bahwa kualitas individu dari Tim Nasional Spanyol sudah tidak perlu ditanya lagi. Berisikan kombinasi dari Barcelona dan Real Madrid serta beberapa pemain dari klub lainnya, Spanyol mempunyai segalanya untuk memenangkan gelar keempat mereka tahun ini. Tapi, 6 tahun juga adalah waktu yang memakan usia pemain-pemain senior Spanyol. Pemain kunci seperti Carles Puyol kini sudah berusia 35 tahun, Xavi sudah 34, dan Xabi Alonso sudah 32 tahun. Tapi bukan berarti regenarasi tidak terjadi di Spanyol. Dengan klub seperti Barcelona dan Real Madrid tidak berhenti menghasilkan pemain-pemain muda berkualitas dan berteknik tinggi, Spanyol tidak akan menghadapi banyak masalah menggantikan pemain-pemain yang dimakan umur ini. Pemain muda seperti Thiago, Isco, Koke, dan Illaramendi pastinya siap untuk dimainkan bersama dengan atau bahkan menggantikan para seniornya tanpa mengurangi kemampuan kolektif tim. Di belakang, Sergio Ramos nampaknya akan fix menggantikan peran Carles Puyol berduet dengan Gerard Pique di jantung pertahanan. Dengan Jordi Alba dan Alvaro Arbeloa ataupun Cesar Azpilicueta berada di kiri kanan mereka. Dan masih ada pemain-pemain lain seperti Raul Albiol, dan pemain muda Inigo Martinez yang tidak kalah bagusnya yang siap melapis mereka. Di tengah, pemain muda sepertinya sudah siap menggantikan para seniornya, tapi kita tidak bisa mencoret nama Andres Iniesta dan Xavi dari tim. Kedua pemain ini akan tetap memiliki peran penting di Spanyol. Selain itu adanya pemain seperti Sergio Busquets dan Javi Martinez akan membuat tim ini semakin stabil di tengah. Di depan, Alvaro Negredo terlihat sangat meyakinkan semenjak bermain di Manchester City, , Diego Costa juga masih terlihat menggila bersama Atletico Madrid, dan Fernando Llorente juga menunjukan performan yang tidak kalah bagusnya di Juventus.. Dan yang terpenting adalah, ketiganya bukan tipe false nine striker, ketiganya adalah goal scoring machine. Jadi tidak ada alasan untuk Spanyol tidak menggunakan mereka di turnamen ini. Dan sepertinya saya tidak perlu membahas masalah posisi kiper ya. Cukup saya sebutkan saja nama-namanya, anda sendiri bisa mengerti: Iker Casillas, David De Gea, Victor Valdes, Diego Lopez, dan Pepe Reina. Got it?

Best Formation

Casillas
Arbeloa - Ramos - Pique - Alba
Thiago - Busquets - Xavi
Iniesta
Diego Costa - Negredo

Pemain Kunci


Agak sulit sejujurnya untuk memilih siapa pemain yang bisa menjadi penentu di tim yang bertabur bintang seperti di Tim Spanyol, tapi menurut saya, Iker Casillas lah pemain kunci dari Spanyol. Kapten sekaligus palang pintu terakhir dari La Furia Roja. Meskipun tidak banyak bermain buat klubnya, Real Madrid, musim ini, Saint Iker tetap menjadi bagian penting bagi tim nasional Spanyol. Meskipun seorang Madrileño, ia bisa mendapatkan respek dari rekan timnya yang bermain buat Barcelona. Ia adalah pemersatu tim di timnas Spanyol. Sebagai sosok senior, ia akan bertugas sebagai memimpin timnas Spanyol di turnamen besar lainnya. Memasuki Piala Dunia keempatnya, kematangannya dan ketenangannya sebagai pertahanan terakhir sudah tidak perlu ditanyakan. Penyelamatannya di Final 2010 menjadi bukti kehebatan Saint Iker sebagai seorang kiper. Kehadirannya di bawah mistar Spanyol memberi rasa nyaman bagi dua central defenders di depannya dan buat timnya secara keseluruhan, bahwa ada orang yang dapat dipercaya ketika terjadi kesalahan. Kualitasnya akan menjadi sangat penting jika Spanyol ingin mempertahankan gelar mereka di Brazil, Juni ini.


Final Verdict


Dominasi mereka nampaknya belum akan berahir. Kualitas yang dimiliki Spanyol di semua lini, serta kombinasi pemain muda dan senior mereka juga masih akan menjadi momok bagi semua tim yang akan menghadapi Spanyol di Piala Dunia ini. Tiki-Taka mereka juga pasti akan tetap menjadi sesuatu yang menghibur walaupun agak sedikit membosankan, tapi itulah Spanyol. Teknik tinggi yang dimiliki oleh hampir semua pemainnya, kemampuan untuk passing dengan baik, dan kehadiran pemain-pemain tengah yang semuanya dapat mengatur tempo dan memiliki visi yang luar biasa akan membuat tim ini sulit untuk ditaklukan. Tapi masihkan tiki-taka dapat menaklukan dunia lagi? Kita tunggu sampai Juli ini.

3/01/2014

My World Cup 2014 Prediction #1: BRAZIL



Lagi-lagi sepakbola. Semoga teman-teman bisa mengerti sih kenapa lagi-lagi topiknya sepakbola. Tapi kali ini topiknya sedikit lebih umum kok, jadi yang tidak begitu mengerti bola pun bisa paham dan terlebih bisa lebih excited menyambut perhelatan akbar yang siap digelar dari bulan Juni ini di Brazil, yap, FIFA World Cup 2014 Brazil. Jadi buat teman-teman yang mungkin kurang suka sepakbola tapi pengen bisa tetap ikutan euphoria nya tanpa terlihat clueless, semoga tulisan ini bisa membantu.
Menjelang kick-off dari Piala Dunia 2014, saya ingin mencoba untuk membahas beberapa negara yang memang menurut saya memiliki kans yang cukup besar untuk berjaya di Brazil nanti dalam beberapa postingan saya selanjutnya. Ada beberapa negara yang memang menurut saya memiliki kans besar, dan ada beberapa yang mempunyai potensi untuk mengejutkan di Piala Dunia ini. And to start it off, there is no better way to start the prediction with the host nation, one the strong favorite to win the cup, The Samba Team: Brazil.

Brazil

Tuan rumah sekaligus salah satu powerhouse dalam dunia sepakbola ini sudah tidak perlu perkenalan lagi. Tim yang selalu (dan satu-satunya) didukung oleh ibu saya dari ia remaja. Lima kali juara dunia dan negara yang tidak pernah berhenti menghasilkan talenta-talenta yang selalu menghiasi dunia persepakbolaan ini menjadi salah satu kandidat kuat untuk menjadi juara di perhelatan tahun ini. Selain faktor tuan rumah, yang pastinya akan menjadi motivasi tersendiri, kualitas pemain yang dimiliki Tim Samba di Piala Dunia kali ini juga memiliki kualitas yang luar biasa. Untuk membahas lebih lanjut mengenai kenapa Brazil patut diperhitungkan di Piala Dunia ini, mari kita mulai dengan melihat dari faktor pertama yaitu hasil undian grup mereka:

Group

Brazil - Croatia - Mexico - Cameroon

Grup yang relatif tidak sulit, tapi tidak mudah juga buat tim tuan rumah. Croatia, Mexico, dan Cameroon semuanya memiliki pemain-pemain berkualitas yang berpotensi mengganggu jalan Brazil ke babak berikutnya. Bisa dibilang, ketiga tim lainnya memang berada satu level di bawah Brazil, namun ketika berada di babak final turnamen besar, tim-tim seperti ini malah sering mengejutkan. Mungkin Brazil akan cukup pede ketika harus berhadapan dengan Mexico di pertandingan kedua grup setelah mereka sebelumnya pernah mengalahkan Mexico di Piala Konfederasi tahun lalu, tapi bukan berarti Mexico bisa dianggap remeh. Kroasia pun begitu, mereka memiliki pemain berkualitas seperti Luka Modric yang bermain di Real Madrid dan beberapa pemain lainnya. Kamerun mungkin menua, tapi kualitas dan pengalaman pemainnya tidak bisa dipandang sebelah mata. Pemain seperti Samuel Eto’o dan Alex Song bisa menjadi pembeda ketika berhadapan dengan tim besar seperti Brazil. Tapi secara overall, Brazil memiliki kans lebih besar untuk lolos sebagai juara grup di Grup A. Namun yang patut di ingat dan patut di lihat lagi adalah tetangga mereka di Grup B yang akan menjadi lawan mereka di 16 Besar: Spanyol atau Belanda (Kemungkinan kalau menurut saya adalah Belanda). Bukan lawan yang mudah. Dan begitu pula dengan di babak Quarter Final, jika mereka lolos. Dengan tim di Grup C (dengan segala hormat), bukan tim-tim kandidat juara, dan di Grup D diisi dengan tim hebat, ada kemungkinan Brazil berhadapan dengan antara Italy, Uruguay, atau Inggris. Brazil butuh mengeluarkan segala kemampuan mereka jika memang ingin menjadi juara di depan publiknya sendiri.

From Left to Right:
Paulinho - Thiago Silva - Neymar - David Luiz - Bernard


Komposisi Tim
Pada pembahasan ini menurut saya sangat menarik. Banyak orang yang mengatakan Brazil memiliki tim yang luar biasa pada gelaran ini, dan saya cukup setuju dengan pendapat ini. Dengan komposisi pemain yang relative mirip dengan tim yang memenangkan Piala Dunia 2002, kans Brazil sangat besar jika pelatih Luiz Felipe Scolari, yang juga menjadi pelatih mereka di 2002, bisa mengatur komposisi tim secara baik. Di belakang, Dante, David Luiz, dan kapten Thiago Silva akan menjadi kunci pertahanan mereka bulan Juni ini. Terutama jika melihat full back mereka yang memiliki mentalitas menyerang sangat baik. Dani Alves dan Marcelo saya rasa sudah pasti akan menjadi pemain kunci di kanan dan kiri pertahanan Brazil, respectively. Dan ketika masuk ke pemain tengah, saya rasa yang membuat permainan Brazil akan lebih baik pada turnamen ini adalah dengan hadirnya pemain-pemain tengah yang memiliki kemampuan bertahan sama baiknya dengan menyerang di diri Ramires, Paulinho, Luiz Gustavo, dan Fernandinho. Keempat pemain ini akan menjadi penting di antara pemain lainnya yang akan sangat sering melakukan serangan. Pemain-pemain ini yang memiliki peran penting tapi kadang suka terlupakan. Selain itu, kehadiran Oscar juga akan sangat vital bagi Brazil. Di klubnya, Chelsea, Oscar berubah menjadi sosok yang sangat luar biasa dalam mengatur serangan. Kemampuan tekniknya yang luar biasa ditambah dengan kemampuannya untuk mendikte tempo permainan akan membuat Brazil lebih menakutkan. Apalagi jika kita melihat pemain-pemain yang berada di lini depan mereka. Nama Neymar akan selalu muncul pertama kali jika memikirkan lini depan Brazil di Piala Dunia ini. Penyerang Barcelona ini bisa mengubah hasil pertandingan dengan magis dribbling dan hal-hal ajaib lain yang bisa dilakukannya di lapangan. Tapi tidak itu saja, masih ada nama Hulk disitu, ada Pato dan penyerang muda Leandro Damiao juga yang berpotensi menjadi bahaya bagi lawan selain Neymar. Mungkin mereka kehilangan Diego Costa, tapi masih banyak nama lain yang bisa menjadi penggantinya. Dan diluar nama-nama tenar lainnya, pemain muda lainnya seperti Bernard (Shaktar), Marcelo (Atletico Paranaense), dan Lucas Moura (PSG) juga tentunya siap mencuri perhatian di panggung terbesar sepakbola ini. Tapi diluar nama-nama beken itu, saya melihat ada dua nama lama yang mungkin menghiasi skuad Brazil Juni ini: Ronaldinho dan Kaka. Dua pemain ini mungkin sudah tidak lagi muda. Tapi performa mereka di klub mereka masing-masing tidak bisa dianggap remeh. Kaka kembali menemukan permainan terbaiknya di Milan, dan Ronaldinho menunjukan bahwa ia masih memiliki sentuhan-sentuhan ajaib yang membuatnya dua kali memenangkan Balon D’Or. Hanya saja yang menjadi masalah Brazil adalah di bawah gawang. Tidak ada pemain yang betul-betul memiliki kualitas di atas rata-rata untuk mengisi pos ini. Julio Cesar mungkin hebat ketika ia membela Internazionale, tapi sekarang, dia jauh dari kata hebat. Pilihan lain bisa jatuh ke Jefferson. Relatively tidak dikenal. Dan kualitasnya pun tidak bisa dibilang special. Mungkin inilah satu-satunya kelemahan Brazil, memasuki Piala Dunia ini.

Best Formation:
Jefferson
Dani Alves – Thiago Silva – Dante – Marcelo
Ramires – Fernandinho
Willian – Oscar- Neymar
Hulk

Pemain Kunci:



Siapa lagi selain: NEYMAR. Penyerang Barcelona ini semakin terlihat dan terasah kemampuannya semenjak pindah ke Barcelona, di Summer Transfer Window tahun lalu. Berada satu tim dengan pemain (kedua) terbaik dunia, Lionel Messi, Neymar betul-betul menjelma menjadi sosok yang bisa di andalkan di lini depan. Ketika Messi cidera, ia mampu untuk mengisi peran Messi dengan baik. Gol demi gol pun tercipta. Dan disana pula ia belajar bermain secara kolektif atau secara tim. Jika sebelumnya di Santos kita banyak melihat (via Youtube) Neymar melakukan hal-hal ajaib atau mencetak gol-gol luar biasa lewat aksi individunya, kali ini ia berhasil menunjukkan sisi lain yang membuat ia semakin menjadi-jadi. Berada di sebuah tim yang lebih mengandalkan passing dibandingkan aksi dribbling, apalagi ditambah dengan kehadiran Messi, membuat Neymar lebih dewasa dan membuatnya belajar untuk jadi lebih baik lagi. Ini yang akan membuat Scolari dapat menyandarkan banyak harapan di pundak Neymar di Piala Dunia ini. Jika diberi kebebasan dan peran yang besar, apalagi bermain di depan public sendiri, Neymar bisa menjadi kunci Brazil untuk memenangkan Piala Dunia kali ini.

Final Verdict:



Brazil memiliki kesempatan besar tahun ini. Komposisi pemain yang luar biasa dan di usia matang, pelatih yang berpengalaman, dan bermain di depan pendukungnya sendiri, Brazil pasti akan tampil gemilang. Generasi baru yang tidak kalah berkualitasnya, dan, hal terbaik nya juga menurut saya, sangat tipikal Brazil: menyerang dan menghibur. Akan sangat menarik untuk disaksikan walaupun anda tidak mendukung tim ini di Piala Dunia. Semi-Final menurut saya akan menjadi hal pasti bagi Brazil di Piala Dunia ini. Karna, mengutip dari Vin Diesel: “THIS IS BRASIL!”



2/24/2014

A Universe of Its Own


Sebelumnya apa yang akan saya tulis disini pernah saya tulis juga di blog saya sebelumnya, tapi mohon jangan tanya apa alamat blog saya itu karna saya tidak akan pernah mau memberitahu karena blog itu penuh dengan kenistaan saya di masa remaja. Dan ketika saya tulis “Di masa remaja” mohon tidak menanyakan berapa usia saya. Sensitif.

Bagi beberapa orang, apa yang akan coba saya elaborasikan disini adalah sebuah olahraga yang penuh kekerasan dan tidak bermoral serta tidak ada gunanya, tapi saya disini ingin untuk memberikan sudut pandang lain mengenai cabang olahraga yang satu ini, bahwa olahraga yang satu ini lebih dari sekedar orang membanting tubuh orang lain di ring atau ketika steel chair atau sledgehammer menjadi bagian olahraga ini. Iya, saya akan membahas cabang olahraga (terserah sih bila pembaca tidak mau menyebutnya olahraga) gulat professional atau Pro-Wrestling, atau yang di Indonesia lebih di kenal dengan istilah “Smackdown!” (Baca: smekdon).



Pertama-tama, “Smackdown!” sendiri bukanlah sebuah term yang bisa digunakan untuk merujuk olahraga satu ini, karna sejatinya, “Smackdown!” adalah sebuah acara televisi yang diproduksi oleh WWE (Dulu WWF) yang memang menampilkan pertunjukan gulat professional setiap minggunya. Mungkin karna acara gulat pertama yang booming di Indonesia itu adalah WWF SmackDown!, maka istilah ini melekat di pikiran kebanyakan orang di Indonesia. Tapi sebenarnya pro-wrestling lebih dari sekedar Smackdown .
Ketika saya mulai menulis artikel ini, WWE mulai memasuki periode yang paling menarik untuk diikuti setiap tahunnya, yaitu: Road To Wrestlemania. Wrestlemania itu sendiri seperti SuperBowl nya pro-wrestling, atau NBA Final nya lah. Tapi sebelumnya, saya ingin teman-teman tahu apa sih pro-wrestling, kenapa di Amerika olahraga ini bisa dinikmati semua kalangan bahkan wanita dan anak-anak sekalipun, dan apa sih yang membuat olahraga ini menarik untuk diikuti. Semoga artikel ini bisa membuka wawasan teman-teman mengenai olahraga “barbaric” ini.


Undertaker vs Triple H

Pro-Wrestling itu berbeda total dengan gulat yang biasa ditandingkan di Olimpiade. Pro-Wrestling lebih bebas baik secara gerakan dan peraturan. Dan yang terutama, yang dijual bukanlah sekedar olahraga, tapi lebih ke sebuah cerita yang menjadikan gulat itu sendiri sebagai penentu dari alur cerita itu sendiri. Dan ketika membahas tentang pro-wrestling, banyak orang yang menyebutnya sebagai olahraga “bohongan” atau sejenisnya, tapi ini keliru. Pro-wrestling adalah olahraga sekaligus sinetron, karna, seperti yang sudah saya sebutkan, yang di jual adalah cerita yang tidak pernah putus yang membungkus gulatnya itu sendiri. Ketika orang-orang berkata bahwa ini adalah olahraga “bohongan”, kesalahannya adalah, bahwa olahraga ini tidak bohongan: the risk, impact, and some of the painful thing they do are real. Yang membuat orang-orang berpendapat bahwa ini adalah “bohongan” adalah karna hasil dari setiap pertandingan itu sebetulnya sudah di tentukan, atau pre-determined. Tapi sekali lagi, ini dilakukan untuk menyokong alur cerita yang sedang berlangsung atau storyline. Dan layaknya cerita lainnya, di pro-wrestling pun ada tokoh baik dan jahat. Karakter baik itu biasa disebut “Babyface/Face”, sedangkan tokoh antagonis biasa disebut dengan istilah “Heel”. Dan karakter baik tidak selamanya akan menjadi Babyface, dan tidak selamanya seorang heel akan tetap menjadi tokoh jahat. Dalam perjalanan kariernya, seorang pro-wrestler bisa berubah-ubah dari heel ke face lalu ke heel lagi lalu ke face. Semua tergantung storyline atau sekedar untuk memperbaharui karakter yang dibawakannya agar tidak membosankan. Karna setiap pegulat mempunyai karakter atau persona nya masing-masing. Ada yang karakternya sebagai bos yang suka menyalahgunakan kekuasaannya (Contoh: Triple H dan Stephanie McMahon 2014), ada yang sebagai seorang underdog yang berusaha melawan evil bosses itu sendiri (Contoh: CM Punk dan Daniel Bryan), ada yang seperti cult leader yang nuansanya mistis dan mengerikan (Contoh: Bray Wyatt and Wyatt Family), dan tentunya ada karakter panutan anak-anak yang selalu bisa mengalahkan lawannya yang jahat dengan cara yang benar seperti yang dibawakan oleh John Cena (BOO!). Karakter dalam pro-wrestling sangat beragam. Dan itu yang membuat industry ini begitu menarik. Alur cerita yang ada juga tidak pernah putus. Akan selalu ada persaingan baru dengan alur cerita baru, dengan lawan yang baru.

John Cena
Saya adalah penggemar pro-wrestling in general, dan WWE in specific. WWE sendiri adalah satu dari beberapa promotor dari pro-wrestling di Amerika yang sangat mengedepankan nilai hiburan dalam acaranya. WWE di masa sekarang sangat berbeda dengan WWE/WWF yang mungkin pernah anda tonton sebelumnya. Karna di era yang sekarang ini, WWE menyediakan produk yang family oriented dan child-friendly. Tidak ada lagi steel chair to the head atau gerakan-gerakan yang terlalu berbahaya, karena, selain karna adanya awareness untuk masalah concussion, juga karena produk mereka ditujukan kepada anak-anak. Karakter yang ada sekarang banyak yang child-friendly karakter. Meskipun ceritanya tetap bermaterikan hal-hal dewasa, tapi WWE berusaha untuk menyajikannya dengan format yang bisa dinikmati semua orang. Ini alasan begitu banyak orang tua yang membawa anak mereka menyaksikan WWE Live Event, karena mereka tahu yang mereka akan saksikan adalah acara yang menghibur. Mungkin disini, perbedaan yang bisa saya sadari adalah dimana perbedaan anak-anak disana dan di Indonesia menjadi sesuatu yang tidak bisa dipungkiri. Anak-anak disana tahu kalau apa yang mereka lihat di TV itu sesuatu yang tidak boleh mereka tiru, dan orang tua juga cukup bijak dalam membantu mereka melihat pro-wrestling, sedangkan di Indonesia, anak-anak disini tidak peduli tentang pesan yang mereka lihat di TV, yang mereka tahu adalah mereka ingin menjadi karakter yang mereka lihat di TV dan bisa mempraktekan gerakan-gerakan tersebut. Tapi saya tidak akan membahas lebih lanjut mengenai masalah itu. Kembali ke topik.

Sheamus
Teman-teman, pro-wrestling bukanlah sekedar acara gulat yang penuh kekerasan dan tidak mendidik. Pro-wrestling is a form of entertainment. Bahkan WWE sendiri menyebut produk mereka sebagai produk Sports-Entertainment. Elemen hiburan yang digunakan bahkan lebih banyak dibandingkan gulatnya itu sendiri. Misalnya di weekly television show yang menjadi flagship program dari WWE, RAW, dari total 3 jam acara, hanya 1 jam yang berisikan pertandingan gulat itu sendiri, sisanya diisi oleh sesi promo, dimana pro-wrestler (atau Superstar, istilah yang digunakan oleh WWE untuk pegulatnya) berbicara sendiri atau dengan lawannya di atas ring, untuk membuat cerita yang sedang mereka lakoni lebih menarik. Jadi, di dunia pro-wrestling, seorang pegulat dituntut untuk tidak hanya mampu untuk bergulat, tapi juga untuk berakting. Karna di dunia pro-wrestling, ring skill terkadang tidak cukup, diperlukan mic-skill dan kemampuan untuk connect with the audience agar bisa menjadi seorang superstar papan atas. Superstar seperti John Cena dan The Rock bisa dilihat sebagai contoh dari pentingnya acting, mic, dan in-ring skill di industry pro-wrestling. Karna di pro-wrestling, promo hanya bisa dilakukan satu kali. Tidak ada take 2, atau cut dan sejenisnya. Superstar harus bisa mengahapal script mereka dan membawakannya di depan ribuan penonton di arena dan jutaan yang menyaksikan di televisi satu kali! Dan mereka dituntut untuk tidak melakukan kesalahan. Jadi misalnya teman-teman memutuskan untuk membuktikan penjelasan saya disini dan mulai menyaksikan RAW, misalnya, jangan terlalu terpaku pada adegan banting-bantingannya, tapi coba focus ke hal lain seperti cerita yang sedang berjalan. Yang sedang menjadi cerita utama di WWE saat ini adalah Randy Orton vs Batista dan John Cena vs Bray Wyatt, dan lihat sosok Daniel Bryan yang menjadi idola penonton tapi selalu gagal menjadi juara karena bos-bosnya menganggap dia tidak cukup "menjual", lihat perjuangannya. Coba pusatkan perhatian teman-teman ketika superstar-superstar ini melakukan promo, atau ketika bagaimana sebuah cerita perlahan di unfold. Saya rasa menyaksikan satu episode tidak akan cukup, karna akan sangat menarik untuk mengikuti ceritanya dan mencari tahu apa yang terjadi dengan si A di episode berikutnya. Sama persis seperti serial TV. Hanya saja, yang ini menggunakan elemen gulat sebagai penentu. Coba deh.

At the end, pro-wrestling is more than just a sport, it’s a different form of entertainment that actually can amuse you. WWE memanggil fans nya sebagai WWE Universe, dan bagi saya, ini bukan sekedar sebutan bagi fans dari pro-wrestling dan WWE, tapi juga untuk WWE itu sendiri. WWE, with everything that is going in it, the characters, the storyline, the intrigue, is more than just a wrestling promotion, it’s a universe: A different kind of universe. A Universe of its own. WWE Universe.

Jadwal televisi WWE:
Monday Night RAW: Selasa, 8 pagi @ internet (LIVE).
Friday Night Smackdown!: Sabtu, 8 pagi @ internet (recorded event)
Next Big EventL WWE Wrestlemania XXX (Senin, 7 April, 6 pagi @ internet)


#SongToThisPost Electrifying – Jim Johnston (The Rock Theme Song)

2/21/2014

Bad Decision? I Don't Think So

Dalam kurun 8-9 bulan terakhir, dunia sepakbola dikejutkan dengan dua transfer pemain yang menjadi kunci dalam permainan timnya dan pujaan para pendukung di musim sebelumnya. Pertama terjadi di hari terakhir jendela transfer musim panas, ketika Real Madrid secara mengejutkan melepas salah satu playmaker andalan mereka, Mesut Özil, ke Arsenal, dengan biaya terbesar yang pernah dibayarkan Arsenal untuk satu pemain. Özil merupakan salah satu pemain kesayangan Mourinho ketika The Special One mengarsiteki Real Madrid. Dan yang kedua adalah Juan Mata. Mata adalah pemain kunci Chelsea selama dua musim terakhir dan menjadi salah satu figur penting saat Chelsea berhasil memenangkan Liga Champion dan Liga Europa dua musim terakhir. Ia dilepas ke Manchester United pada akhir bursa transfer Januari lalu oleh Jose Mourinho, dan menimbulkan kontroversi karna Mata adalah Chelsea Player of The Year untuk dua musim berturut-turut. Tapi apakah dua keputusan ini merupakan kesalahan? Apakah pelatih sekaliber Carlo Ancelotti atau Jose Mourinho tanpa alasan melepas dua pemain dengan kaliber seperti mereka? Atau ada alasan taktikal yang membuat kedua pemain ini dilepas? Di artikel ini saya akan mencoba untuk mencari tahu mengapa kedua pemain ini harus keluar dari klub mereka dan bermain di tempat lain.

Kita akan mulai dengan melihat Mesut Özil. Playmaker Jerman ini adalah seorang pemain dengan teknik yang luar biasa. Dribbling, teknik, serta visi pemain berdarah Turki ini menjadikan ia salah satu playmaker terbaik di dunia saat ini. Tapi mengapa Carlo Ancelotti melepas pemain yang pada musim sebelumnya membuat lebih banyak assist dibandingkan dengan pemain lainnya? Mungkin jawabannya adalah karna work rate pemain ini secara kolektif dan taktikal. Tidak ada yang bisa membantah Özil adalah pemain yang bisa mengubah permainan dengan umpan-umpannya yang secara tiba-tiba bisa melepas striker untuk mencetak gol di tengah ketatnya pertahanan lawan, tapi ketika ditugaskan untuk melakukan tugas bertahan, ia bukan pemain yang bisa diandalkan. Ketika Carlo Ancelotti melepas Özil ke Arsenal, ia sudah sebelumnya mendatangkan pemain tengah lain dalam Isco, Illaramendi dan tentunya Gareth Bale. Selain itu, ia juga masih punya Khedira, Xabi Alonso, dan Casemiro di lapangan tengah. Selain karena menumpuknya pemain tengah, jika dilihat, pemain-pemain tengah yang dimiliki oleh Ancelotti semuanya memiliki kemampuan bertahan yang sama baiknya dengan kemampuan menyerang mereka. Bahkan Gareth Bale sekalipun memiliki naluri bertahan yang cukup baik dan tidak segan untuk turun untuk membantu lini pertahanan (Karena dulu ia bermain sebagai bek kiri di awal karirnya). Sedangkan Özil lebih sering menunggu dan membiarkan pemain lain untuk melakukan tugas bertahan. Ini menjadi alasan mengapa Ancelotti Nampak tidak keberatan untuk melepas Özil ke Arsenal di akhir jendela transfer musim panas lalu. Lalu Özil datang ke Emirates Stadium. Sambutan meriah dan optimisme mengikuti kedatangan sang playmaker di Arsenal. Ia digadang akan menjadi katalis kebangkitan Arsenal setelah menjalani 8 tahun nirgelar. Dan performa awal Özil memang membawa perubahan yang sangat berarti di permainan Arsenal. Nampak ia dapat dengan mudah menyatu dengan permainan Arsenal yang memang sedang bermain baik di awal musim. Ia dengan mudah membat lini depan Arsenal menjadi lebih tajam dan mematikan. Tapi, masalah kedua yang menjadi alasan Özil bukanlah pemain terbaik dunia pun terlihat: inkosisten. Tanpa bias atau sejenisnya, terlihat Özil gagal menampilkan permainan terbaiknya setiap minggunya. Saya ingat sekali ketika Arsenal berhadapan dengan Manchester United di kali pertama di musim 2013-2014, Özil hamper tidak Nampak di pertandingan itu. Performanya malah kalah bagus dengan Tomas Rosicky yang juga menjadi bagian penting di Arsenal. Peran Aaron Ramsey juga menjadi faktor utama mengapa Arsenal bisa begitu dominan di awal musim ini. Dengan begitu banyak gol yang dicetak Ramsey, membuat permainan Arsenal secara keseluruhan tampak luar biasa. Namun jika dilihat secara individu, Özil tidak sementereng yang lainnya. Okay, Özil berhasil membuat banyak assist yang juga membantu Arsenal jadi lebih baik, tapi apa ia melakukannya setiap minggu secara konsisten? Saya ragu ia melakukannya. Kejadian dini hari tadi (21/2) ketika Bayern Muenchen datang ke Emirates juga menjadi bukti yang menguatkan opini saya. Kemarahan Flamini pada Özil juga bukan tidak berdasar. Jika dilihat pada tayangan ulang, Nampak Özil tidak melakukan tugasnya dengan baik ketika bertahan. Apalagi ia ditugaskan untuk menjaga pemain sekelas Arjen Robben. Mungkin Özil bukanlah pemain bertahan, ia adalah seorang penyerang, tapi ketika timnya sedang bermain dengan sepuluh orang, bahkan seorang Cristiano Ronaldo atau Lionel Messi pun akan lebih awas dan bertahan dengan baik. Özil membiarkan Robben lepas untuk menerima umpan dari Toni Kroos ke daerah yang sangat berbahaya, dan ia terlambat untuk mengejar Robben. Selain itu, penalti nya yang begitu lemah juga menambah buruk malam itu bagi Özil. Dan bagi saya, ini membuat saya semakin beranggapan bahwa, mungkin Özil secara taktikal offense, adalah pemain yang luar biasa, tapi secara keseluruhan taktikal kolektif, ia bukanlah pemain yang bisa diandalkan, terutama ketika bertahan. Karna bagi saya, seorang pemain, sekreatif atau sehebat apapun skillnya, ia harus bisa melakan tugasnya baik menyerang ataupun bertahan.

Pemain kedua yang akan coba saya lihat adalah Juan Mata. Layaknya Özil, Mata adalah seorang pemain yang memiliki visi menyerang dan teknik yang hebat. Kemampuannya mengatur tempo penyerangan dan melihat pergerakan rekan satu timnya, serta umpannya yang bisa membongkar lini pertahanan lawan membuatnya menjadi salah satu pemain hebat. Tapi mengapa Jose Mourinho lebih memilih Oscar untuk mengisi posisi “nomor 10” di Chelsea? Juan Mata adalah tipikal pemain Spanyol: seorang technician. Ia memiliki teknik yang superior, visi yang hebat, dan fleksibilitas untuk bermain di beberapa posisi berbeda. Tapi ia bukanlah pemain yang memiliki kecepatan tinggi dan kemampuan bertahan yang hebat. Mata adalah salah satu pemain “nomor 10” klasik yang akan membantu meningkatkan kualitas tim secara ofensif. Tapi mengapa ia gagal beradaptasi dengan permainan Jose Mourinho sehingga ia harus rela digusur oleh Oscar sebelum akhirnya pindah ke Manchester United? Jawabannya ada di penjelasan kelemahan Mata sebelumnya. Seperti yang sudah saya sebutkan, Mata bukanlah pemain dengan kecepatan tinggi, dan kemampuan Mata untuk menekan pemain lawan untuk merebut bola pun masih kalah jika dibandingkan dengan Oscar. Semenjak kedatangan Mata di Chelsea, tiga manajer yang berbeda menerapkan permainan tiga permainan yang berbeda pula. Namun kesamaan dari ketiga manajer tersebut adalah mereka memberikan Mata kebebasan dari tugas bertahan. Villas-Boas, Di Matteo, dan Benitez semuanya memberikan keleluasaan bagi Mata dan memberikan tugas bertahan pada pemain lainnya seperti Ramires, Lampard, dan Obi Mikel. Sedangkan di era Mourinho, semua pemain diwajikan untuk berkontribusi dalam pertahanan, meskipun dilakukan di setengah area lawan. Ini membuat pemain harus melakukan pressing dengan tujuan merebut bola dari lawan secepat mungkin agar bisa kembali melakukan serangan. Dan disinilah masalah untuk mata. Ketidakmampuan Mata untuk melakukan pressing dengan baik ketika di tempatkan di “posisi nomor 10” membuatnya harus rela digusur oleh Oscar yang memiliki kecepatan lebih baik sehingga bisa lebih cepat melakukan pressing ketika kehilangan bola. Mata tidak mampu melakukan itu. Sedangkan ketika ia dimainkan di sayap, ia juga tidak mampu untuk mengimbangin kecepatan pemain sayap lawan sehingga ia tidak bisa cepat membantu full-back ketika bertahan, tidak seperti Willian, Hazard, atau Schurlle yang memiliki kecepatan di sayap. Ini membuatnya gagal memenuhi ekspektasi Jose Mourinho yang ingin timnya untuk lebih proaktif dan tidak sekedar reaktif. Tanpa meragukan kemampuan Mata secara teknis ataupun visi, tapi, sama seperti Özil, bertahan juga sama pentingnya dengan menyerang. Dan Mata gagal bisa melakukan tugasnya secara keseluruhan. Dan ketika ada pemain lain yang tidak kalah bagus dan mampu melakukan kedua tugas itu bersamaan, dan apalagi Mata gagal beradaptasi dengan baik, maka bangku cadangan bukanlah sesuatu yang aneh. Tapi sulit untuk melihat bagaimana performa Mata di Manchester United karna baru kurang dari satu bulan ia bergabung. Tapi Nampak perbedaan strategi antara Mourinho dan David Moyes berdampak positif bagi Mata. Meskipun Mata bukanlah seorang pemain yang menjadi tipikal pemain Manchester United, tapi nampak rencana Moyes untuk mem-provide Mata dengan kebebasan dalam menyerang dan dari tugas bertahan, ia nampak akan bisa menjadi pemain penting bagi Manchester United. Tapi ini bukanlah sebuah garansi.


Artikel ini saya buat pure hanya untuk membuktikan argument saya mengenai alasan dua manajer kelas dunia seperti Jose Mourinho dan Carlo Ancelotti melepas pemain dengan skill yang luar biasa dalam diri Mata dan Özil, bahwa mereka dilepas bukan karna alasan non-teknis, tapi lebih karena alasan taktikal. Kedua pemain ini bukan pemain yang gagal, hanya saja, kelemahan mereka membuat mereka tidak mampu beradaptasi dengan baik atau menjalankan tugas mereka dilapangan secara sempurna. Tapi secara universal, mereka membuat sepakbola lebih menarik. Kehadiran mereka akan selalu ditunggu karena dengan kemampuan mereka, sepakbola akan selalu terlihat mudah dan lebih menarik.