2/24/2014

A Universe of Its Own


Sebelumnya apa yang akan saya tulis disini pernah saya tulis juga di blog saya sebelumnya, tapi mohon jangan tanya apa alamat blog saya itu karna saya tidak akan pernah mau memberitahu karena blog itu penuh dengan kenistaan saya di masa remaja. Dan ketika saya tulis “Di masa remaja” mohon tidak menanyakan berapa usia saya. Sensitif.

Bagi beberapa orang, apa yang akan coba saya elaborasikan disini adalah sebuah olahraga yang penuh kekerasan dan tidak bermoral serta tidak ada gunanya, tapi saya disini ingin untuk memberikan sudut pandang lain mengenai cabang olahraga yang satu ini, bahwa olahraga yang satu ini lebih dari sekedar orang membanting tubuh orang lain di ring atau ketika steel chair atau sledgehammer menjadi bagian olahraga ini. Iya, saya akan membahas cabang olahraga (terserah sih bila pembaca tidak mau menyebutnya olahraga) gulat professional atau Pro-Wrestling, atau yang di Indonesia lebih di kenal dengan istilah “Smackdown!” (Baca: smekdon).



Pertama-tama, “Smackdown!” sendiri bukanlah sebuah term yang bisa digunakan untuk merujuk olahraga satu ini, karna sejatinya, “Smackdown!” adalah sebuah acara televisi yang diproduksi oleh WWE (Dulu WWF) yang memang menampilkan pertunjukan gulat professional setiap minggunya. Mungkin karna acara gulat pertama yang booming di Indonesia itu adalah WWF SmackDown!, maka istilah ini melekat di pikiran kebanyakan orang di Indonesia. Tapi sebenarnya pro-wrestling lebih dari sekedar Smackdown .
Ketika saya mulai menulis artikel ini, WWE mulai memasuki periode yang paling menarik untuk diikuti setiap tahunnya, yaitu: Road To Wrestlemania. Wrestlemania itu sendiri seperti SuperBowl nya pro-wrestling, atau NBA Final nya lah. Tapi sebelumnya, saya ingin teman-teman tahu apa sih pro-wrestling, kenapa di Amerika olahraga ini bisa dinikmati semua kalangan bahkan wanita dan anak-anak sekalipun, dan apa sih yang membuat olahraga ini menarik untuk diikuti. Semoga artikel ini bisa membuka wawasan teman-teman mengenai olahraga “barbaric” ini.


Undertaker vs Triple H

Pro-Wrestling itu berbeda total dengan gulat yang biasa ditandingkan di Olimpiade. Pro-Wrestling lebih bebas baik secara gerakan dan peraturan. Dan yang terutama, yang dijual bukanlah sekedar olahraga, tapi lebih ke sebuah cerita yang menjadikan gulat itu sendiri sebagai penentu dari alur cerita itu sendiri. Dan ketika membahas tentang pro-wrestling, banyak orang yang menyebutnya sebagai olahraga “bohongan” atau sejenisnya, tapi ini keliru. Pro-wrestling adalah olahraga sekaligus sinetron, karna, seperti yang sudah saya sebutkan, yang di jual adalah cerita yang tidak pernah putus yang membungkus gulatnya itu sendiri. Ketika orang-orang berkata bahwa ini adalah olahraga “bohongan”, kesalahannya adalah, bahwa olahraga ini tidak bohongan: the risk, impact, and some of the painful thing they do are real. Yang membuat orang-orang berpendapat bahwa ini adalah “bohongan” adalah karna hasil dari setiap pertandingan itu sebetulnya sudah di tentukan, atau pre-determined. Tapi sekali lagi, ini dilakukan untuk menyokong alur cerita yang sedang berlangsung atau storyline. Dan layaknya cerita lainnya, di pro-wrestling pun ada tokoh baik dan jahat. Karakter baik itu biasa disebut “Babyface/Face”, sedangkan tokoh antagonis biasa disebut dengan istilah “Heel”. Dan karakter baik tidak selamanya akan menjadi Babyface, dan tidak selamanya seorang heel akan tetap menjadi tokoh jahat. Dalam perjalanan kariernya, seorang pro-wrestler bisa berubah-ubah dari heel ke face lalu ke heel lagi lalu ke face. Semua tergantung storyline atau sekedar untuk memperbaharui karakter yang dibawakannya agar tidak membosankan. Karna setiap pegulat mempunyai karakter atau persona nya masing-masing. Ada yang karakternya sebagai bos yang suka menyalahgunakan kekuasaannya (Contoh: Triple H dan Stephanie McMahon 2014), ada yang sebagai seorang underdog yang berusaha melawan evil bosses itu sendiri (Contoh: CM Punk dan Daniel Bryan), ada yang seperti cult leader yang nuansanya mistis dan mengerikan (Contoh: Bray Wyatt and Wyatt Family), dan tentunya ada karakter panutan anak-anak yang selalu bisa mengalahkan lawannya yang jahat dengan cara yang benar seperti yang dibawakan oleh John Cena (BOO!). Karakter dalam pro-wrestling sangat beragam. Dan itu yang membuat industry ini begitu menarik. Alur cerita yang ada juga tidak pernah putus. Akan selalu ada persaingan baru dengan alur cerita baru, dengan lawan yang baru.

John Cena
Saya adalah penggemar pro-wrestling in general, dan WWE in specific. WWE sendiri adalah satu dari beberapa promotor dari pro-wrestling di Amerika yang sangat mengedepankan nilai hiburan dalam acaranya. WWE di masa sekarang sangat berbeda dengan WWE/WWF yang mungkin pernah anda tonton sebelumnya. Karna di era yang sekarang ini, WWE menyediakan produk yang family oriented dan child-friendly. Tidak ada lagi steel chair to the head atau gerakan-gerakan yang terlalu berbahaya, karena, selain karna adanya awareness untuk masalah concussion, juga karena produk mereka ditujukan kepada anak-anak. Karakter yang ada sekarang banyak yang child-friendly karakter. Meskipun ceritanya tetap bermaterikan hal-hal dewasa, tapi WWE berusaha untuk menyajikannya dengan format yang bisa dinikmati semua orang. Ini alasan begitu banyak orang tua yang membawa anak mereka menyaksikan WWE Live Event, karena mereka tahu yang mereka akan saksikan adalah acara yang menghibur. Mungkin disini, perbedaan yang bisa saya sadari adalah dimana perbedaan anak-anak disana dan di Indonesia menjadi sesuatu yang tidak bisa dipungkiri. Anak-anak disana tahu kalau apa yang mereka lihat di TV itu sesuatu yang tidak boleh mereka tiru, dan orang tua juga cukup bijak dalam membantu mereka melihat pro-wrestling, sedangkan di Indonesia, anak-anak disini tidak peduli tentang pesan yang mereka lihat di TV, yang mereka tahu adalah mereka ingin menjadi karakter yang mereka lihat di TV dan bisa mempraktekan gerakan-gerakan tersebut. Tapi saya tidak akan membahas lebih lanjut mengenai masalah itu. Kembali ke topik.

Sheamus
Teman-teman, pro-wrestling bukanlah sekedar acara gulat yang penuh kekerasan dan tidak mendidik. Pro-wrestling is a form of entertainment. Bahkan WWE sendiri menyebut produk mereka sebagai produk Sports-Entertainment. Elemen hiburan yang digunakan bahkan lebih banyak dibandingkan gulatnya itu sendiri. Misalnya di weekly television show yang menjadi flagship program dari WWE, RAW, dari total 3 jam acara, hanya 1 jam yang berisikan pertandingan gulat itu sendiri, sisanya diisi oleh sesi promo, dimana pro-wrestler (atau Superstar, istilah yang digunakan oleh WWE untuk pegulatnya) berbicara sendiri atau dengan lawannya di atas ring, untuk membuat cerita yang sedang mereka lakoni lebih menarik. Jadi, di dunia pro-wrestling, seorang pegulat dituntut untuk tidak hanya mampu untuk bergulat, tapi juga untuk berakting. Karna di dunia pro-wrestling, ring skill terkadang tidak cukup, diperlukan mic-skill dan kemampuan untuk connect with the audience agar bisa menjadi seorang superstar papan atas. Superstar seperti John Cena dan The Rock bisa dilihat sebagai contoh dari pentingnya acting, mic, dan in-ring skill di industry pro-wrestling. Karna di pro-wrestling, promo hanya bisa dilakukan satu kali. Tidak ada take 2, atau cut dan sejenisnya. Superstar harus bisa mengahapal script mereka dan membawakannya di depan ribuan penonton di arena dan jutaan yang menyaksikan di televisi satu kali! Dan mereka dituntut untuk tidak melakukan kesalahan. Jadi misalnya teman-teman memutuskan untuk membuktikan penjelasan saya disini dan mulai menyaksikan RAW, misalnya, jangan terlalu terpaku pada adegan banting-bantingannya, tapi coba focus ke hal lain seperti cerita yang sedang berjalan. Yang sedang menjadi cerita utama di WWE saat ini adalah Randy Orton vs Batista dan John Cena vs Bray Wyatt, dan lihat sosok Daniel Bryan yang menjadi idola penonton tapi selalu gagal menjadi juara karena bos-bosnya menganggap dia tidak cukup "menjual", lihat perjuangannya. Coba pusatkan perhatian teman-teman ketika superstar-superstar ini melakukan promo, atau ketika bagaimana sebuah cerita perlahan di unfold. Saya rasa menyaksikan satu episode tidak akan cukup, karna akan sangat menarik untuk mengikuti ceritanya dan mencari tahu apa yang terjadi dengan si A di episode berikutnya. Sama persis seperti serial TV. Hanya saja, yang ini menggunakan elemen gulat sebagai penentu. Coba deh.

At the end, pro-wrestling is more than just a sport, it’s a different form of entertainment that actually can amuse you. WWE memanggil fans nya sebagai WWE Universe, dan bagi saya, ini bukan sekedar sebutan bagi fans dari pro-wrestling dan WWE, tapi juga untuk WWE itu sendiri. WWE, with everything that is going in it, the characters, the storyline, the intrigue, is more than just a wrestling promotion, it’s a universe: A different kind of universe. A Universe of its own. WWE Universe.

Jadwal televisi WWE:
Monday Night RAW: Selasa, 8 pagi @ internet (LIVE).
Friday Night Smackdown!: Sabtu, 8 pagi @ internet (recorded event)
Next Big EventL WWE Wrestlemania XXX (Senin, 7 April, 6 pagi @ internet)


#SongToThisPost Electrifying – Jim Johnston (The Rock Theme Song)

No comments:

Post a Comment