2/21/2014

Bad Decision? I Don't Think So

Dalam kurun 8-9 bulan terakhir, dunia sepakbola dikejutkan dengan dua transfer pemain yang menjadi kunci dalam permainan timnya dan pujaan para pendukung di musim sebelumnya. Pertama terjadi di hari terakhir jendela transfer musim panas, ketika Real Madrid secara mengejutkan melepas salah satu playmaker andalan mereka, Mesut Özil, ke Arsenal, dengan biaya terbesar yang pernah dibayarkan Arsenal untuk satu pemain. Özil merupakan salah satu pemain kesayangan Mourinho ketika The Special One mengarsiteki Real Madrid. Dan yang kedua adalah Juan Mata. Mata adalah pemain kunci Chelsea selama dua musim terakhir dan menjadi salah satu figur penting saat Chelsea berhasil memenangkan Liga Champion dan Liga Europa dua musim terakhir. Ia dilepas ke Manchester United pada akhir bursa transfer Januari lalu oleh Jose Mourinho, dan menimbulkan kontroversi karna Mata adalah Chelsea Player of The Year untuk dua musim berturut-turut. Tapi apakah dua keputusan ini merupakan kesalahan? Apakah pelatih sekaliber Carlo Ancelotti atau Jose Mourinho tanpa alasan melepas dua pemain dengan kaliber seperti mereka? Atau ada alasan taktikal yang membuat kedua pemain ini dilepas? Di artikel ini saya akan mencoba untuk mencari tahu mengapa kedua pemain ini harus keluar dari klub mereka dan bermain di tempat lain.

Kita akan mulai dengan melihat Mesut Özil. Playmaker Jerman ini adalah seorang pemain dengan teknik yang luar biasa. Dribbling, teknik, serta visi pemain berdarah Turki ini menjadikan ia salah satu playmaker terbaik di dunia saat ini. Tapi mengapa Carlo Ancelotti melepas pemain yang pada musim sebelumnya membuat lebih banyak assist dibandingkan dengan pemain lainnya? Mungkin jawabannya adalah karna work rate pemain ini secara kolektif dan taktikal. Tidak ada yang bisa membantah Özil adalah pemain yang bisa mengubah permainan dengan umpan-umpannya yang secara tiba-tiba bisa melepas striker untuk mencetak gol di tengah ketatnya pertahanan lawan, tapi ketika ditugaskan untuk melakukan tugas bertahan, ia bukan pemain yang bisa diandalkan. Ketika Carlo Ancelotti melepas Özil ke Arsenal, ia sudah sebelumnya mendatangkan pemain tengah lain dalam Isco, Illaramendi dan tentunya Gareth Bale. Selain itu, ia juga masih punya Khedira, Xabi Alonso, dan Casemiro di lapangan tengah. Selain karena menumpuknya pemain tengah, jika dilihat, pemain-pemain tengah yang dimiliki oleh Ancelotti semuanya memiliki kemampuan bertahan yang sama baiknya dengan kemampuan menyerang mereka. Bahkan Gareth Bale sekalipun memiliki naluri bertahan yang cukup baik dan tidak segan untuk turun untuk membantu lini pertahanan (Karena dulu ia bermain sebagai bek kiri di awal karirnya). Sedangkan Özil lebih sering menunggu dan membiarkan pemain lain untuk melakukan tugas bertahan. Ini menjadi alasan mengapa Ancelotti Nampak tidak keberatan untuk melepas Özil ke Arsenal di akhir jendela transfer musim panas lalu. Lalu Özil datang ke Emirates Stadium. Sambutan meriah dan optimisme mengikuti kedatangan sang playmaker di Arsenal. Ia digadang akan menjadi katalis kebangkitan Arsenal setelah menjalani 8 tahun nirgelar. Dan performa awal Özil memang membawa perubahan yang sangat berarti di permainan Arsenal. Nampak ia dapat dengan mudah menyatu dengan permainan Arsenal yang memang sedang bermain baik di awal musim. Ia dengan mudah membat lini depan Arsenal menjadi lebih tajam dan mematikan. Tapi, masalah kedua yang menjadi alasan Özil bukanlah pemain terbaik dunia pun terlihat: inkosisten. Tanpa bias atau sejenisnya, terlihat Özil gagal menampilkan permainan terbaiknya setiap minggunya. Saya ingat sekali ketika Arsenal berhadapan dengan Manchester United di kali pertama di musim 2013-2014, Özil hamper tidak Nampak di pertandingan itu. Performanya malah kalah bagus dengan Tomas Rosicky yang juga menjadi bagian penting di Arsenal. Peran Aaron Ramsey juga menjadi faktor utama mengapa Arsenal bisa begitu dominan di awal musim ini. Dengan begitu banyak gol yang dicetak Ramsey, membuat permainan Arsenal secara keseluruhan tampak luar biasa. Namun jika dilihat secara individu, Özil tidak sementereng yang lainnya. Okay, Özil berhasil membuat banyak assist yang juga membantu Arsenal jadi lebih baik, tapi apa ia melakukannya setiap minggu secara konsisten? Saya ragu ia melakukannya. Kejadian dini hari tadi (21/2) ketika Bayern Muenchen datang ke Emirates juga menjadi bukti yang menguatkan opini saya. Kemarahan Flamini pada Özil juga bukan tidak berdasar. Jika dilihat pada tayangan ulang, Nampak Özil tidak melakukan tugasnya dengan baik ketika bertahan. Apalagi ia ditugaskan untuk menjaga pemain sekelas Arjen Robben. Mungkin Özil bukanlah pemain bertahan, ia adalah seorang penyerang, tapi ketika timnya sedang bermain dengan sepuluh orang, bahkan seorang Cristiano Ronaldo atau Lionel Messi pun akan lebih awas dan bertahan dengan baik. Özil membiarkan Robben lepas untuk menerima umpan dari Toni Kroos ke daerah yang sangat berbahaya, dan ia terlambat untuk mengejar Robben. Selain itu, penalti nya yang begitu lemah juga menambah buruk malam itu bagi Özil. Dan bagi saya, ini membuat saya semakin beranggapan bahwa, mungkin Özil secara taktikal offense, adalah pemain yang luar biasa, tapi secara keseluruhan taktikal kolektif, ia bukanlah pemain yang bisa diandalkan, terutama ketika bertahan. Karna bagi saya, seorang pemain, sekreatif atau sehebat apapun skillnya, ia harus bisa melakan tugasnya baik menyerang ataupun bertahan.

Pemain kedua yang akan coba saya lihat adalah Juan Mata. Layaknya Özil, Mata adalah seorang pemain yang memiliki visi menyerang dan teknik yang hebat. Kemampuannya mengatur tempo penyerangan dan melihat pergerakan rekan satu timnya, serta umpannya yang bisa membongkar lini pertahanan lawan membuatnya menjadi salah satu pemain hebat. Tapi mengapa Jose Mourinho lebih memilih Oscar untuk mengisi posisi “nomor 10” di Chelsea? Juan Mata adalah tipikal pemain Spanyol: seorang technician. Ia memiliki teknik yang superior, visi yang hebat, dan fleksibilitas untuk bermain di beberapa posisi berbeda. Tapi ia bukanlah pemain yang memiliki kecepatan tinggi dan kemampuan bertahan yang hebat. Mata adalah salah satu pemain “nomor 10” klasik yang akan membantu meningkatkan kualitas tim secara ofensif. Tapi mengapa ia gagal beradaptasi dengan permainan Jose Mourinho sehingga ia harus rela digusur oleh Oscar sebelum akhirnya pindah ke Manchester United? Jawabannya ada di penjelasan kelemahan Mata sebelumnya. Seperti yang sudah saya sebutkan, Mata bukanlah pemain dengan kecepatan tinggi, dan kemampuan Mata untuk menekan pemain lawan untuk merebut bola pun masih kalah jika dibandingkan dengan Oscar. Semenjak kedatangan Mata di Chelsea, tiga manajer yang berbeda menerapkan permainan tiga permainan yang berbeda pula. Namun kesamaan dari ketiga manajer tersebut adalah mereka memberikan Mata kebebasan dari tugas bertahan. Villas-Boas, Di Matteo, dan Benitez semuanya memberikan keleluasaan bagi Mata dan memberikan tugas bertahan pada pemain lainnya seperti Ramires, Lampard, dan Obi Mikel. Sedangkan di era Mourinho, semua pemain diwajikan untuk berkontribusi dalam pertahanan, meskipun dilakukan di setengah area lawan. Ini membuat pemain harus melakukan pressing dengan tujuan merebut bola dari lawan secepat mungkin agar bisa kembali melakukan serangan. Dan disinilah masalah untuk mata. Ketidakmampuan Mata untuk melakukan pressing dengan baik ketika di tempatkan di “posisi nomor 10” membuatnya harus rela digusur oleh Oscar yang memiliki kecepatan lebih baik sehingga bisa lebih cepat melakukan pressing ketika kehilangan bola. Mata tidak mampu melakukan itu. Sedangkan ketika ia dimainkan di sayap, ia juga tidak mampu untuk mengimbangin kecepatan pemain sayap lawan sehingga ia tidak bisa cepat membantu full-back ketika bertahan, tidak seperti Willian, Hazard, atau Schurlle yang memiliki kecepatan di sayap. Ini membuatnya gagal memenuhi ekspektasi Jose Mourinho yang ingin timnya untuk lebih proaktif dan tidak sekedar reaktif. Tanpa meragukan kemampuan Mata secara teknis ataupun visi, tapi, sama seperti Özil, bertahan juga sama pentingnya dengan menyerang. Dan Mata gagal bisa melakukan tugasnya secara keseluruhan. Dan ketika ada pemain lain yang tidak kalah bagus dan mampu melakukan kedua tugas itu bersamaan, dan apalagi Mata gagal beradaptasi dengan baik, maka bangku cadangan bukanlah sesuatu yang aneh. Tapi sulit untuk melihat bagaimana performa Mata di Manchester United karna baru kurang dari satu bulan ia bergabung. Tapi Nampak perbedaan strategi antara Mourinho dan David Moyes berdampak positif bagi Mata. Meskipun Mata bukanlah seorang pemain yang menjadi tipikal pemain Manchester United, tapi nampak rencana Moyes untuk mem-provide Mata dengan kebebasan dalam menyerang dan dari tugas bertahan, ia nampak akan bisa menjadi pemain penting bagi Manchester United. Tapi ini bukanlah sebuah garansi.


Artikel ini saya buat pure hanya untuk membuktikan argument saya mengenai alasan dua manajer kelas dunia seperti Jose Mourinho dan Carlo Ancelotti melepas pemain dengan skill yang luar biasa dalam diri Mata dan Özil, bahwa mereka dilepas bukan karna alasan non-teknis, tapi lebih karena alasan taktikal. Kedua pemain ini bukan pemain yang gagal, hanya saja, kelemahan mereka membuat mereka tidak mampu beradaptasi dengan baik atau menjalankan tugas mereka dilapangan secara sempurna. Tapi secara universal, mereka membuat sepakbola lebih menarik. Kehadiran mereka akan selalu ditunggu karena dengan kemampuan mereka, sepakbola akan selalu terlihat mudah dan lebih menarik.

No comments:

Post a Comment