Dalam kurun 8-9
bulan terakhir, dunia sepakbola dikejutkan dengan dua transfer pemain yang
menjadi kunci dalam permainan timnya dan pujaan para pendukung di musim
sebelumnya. Pertama terjadi di hari terakhir jendela transfer musim panas,
ketika Real Madrid secara mengejutkan melepas salah satu playmaker andalan
mereka, Mesut Özil, ke Arsenal, dengan biaya terbesar yang pernah dibayarkan
Arsenal untuk satu pemain. Özil merupakan salah satu pemain kesayangan Mourinho
ketika The Special One mengarsiteki Real Madrid. Dan yang kedua adalah Juan Mata.
Mata adalah pemain kunci Chelsea selama dua musim terakhir dan menjadi salah
satu figur penting saat Chelsea berhasil memenangkan Liga Champion dan Liga
Europa dua musim terakhir. Ia dilepas ke Manchester United pada akhir bursa
transfer Januari lalu oleh Jose Mourinho, dan menimbulkan kontroversi karna
Mata adalah Chelsea Player of The Year untuk dua musim berturut-turut. Tapi
apakah dua keputusan ini merupakan kesalahan? Apakah pelatih sekaliber Carlo
Ancelotti atau Jose Mourinho tanpa alasan melepas dua pemain dengan kaliber seperti
mereka? Atau ada alasan taktikal yang membuat kedua pemain ini dilepas? Di
artikel ini saya akan mencoba untuk mencari tahu mengapa kedua pemain ini harus
keluar dari klub mereka dan bermain di tempat lain.
Kita akan mulai
dengan melihat Mesut Özil. Playmaker Jerman ini adalah seorang pemain dengan
teknik yang luar biasa. Dribbling, teknik, serta visi pemain berdarah Turki ini
menjadikan ia salah satu playmaker terbaik di dunia saat ini. Tapi mengapa
Carlo Ancelotti melepas pemain yang pada musim sebelumnya membuat lebih banyak
assist dibandingkan dengan pemain lainnya? Mungkin jawabannya adalah karna work
rate pemain ini secara kolektif dan taktikal. Tidak ada yang bisa membantah Özil
adalah pemain yang bisa mengubah permainan dengan umpan-umpannya yang secara
tiba-tiba bisa melepas striker untuk mencetak gol di tengah ketatnya pertahanan
lawan, tapi ketika ditugaskan untuk melakukan tugas bertahan, ia bukan pemain yang bisa diandalkan. Ketika Carlo
Ancelotti melepas Özil ke Arsenal, ia sudah sebelumnya mendatangkan pemain tengah
lain dalam Isco, Illaramendi dan tentunya Gareth Bale. Selain itu, ia juga
masih punya Khedira, Xabi Alonso, dan Casemiro di lapangan tengah. Selain
karena menumpuknya pemain tengah, jika dilihat, pemain-pemain tengah yang
dimiliki oleh Ancelotti semuanya memiliki kemampuan bertahan yang sama baiknya
dengan kemampuan menyerang mereka. Bahkan Gareth Bale sekalipun memiliki naluri
bertahan yang cukup baik dan tidak segan untuk turun untuk membantu lini
pertahanan (Karena dulu ia bermain sebagai bek kiri di awal karirnya). Sedangkan
Özil lebih sering menunggu dan membiarkan pemain lain untuk melakukan tugas bertahan.
Ini menjadi alasan mengapa Ancelotti Nampak tidak keberatan untuk melepas Özil
ke Arsenal di akhir jendela transfer musim panas lalu. Lalu Özil datang ke
Emirates Stadium. Sambutan meriah dan optimisme mengikuti kedatangan sang
playmaker di Arsenal. Ia digadang akan menjadi katalis kebangkitan Arsenal
setelah menjalani 8 tahun nirgelar. Dan performa awal Özil memang membawa
perubahan yang sangat berarti di permainan Arsenal. Nampak ia dapat dengan
mudah menyatu dengan permainan Arsenal yang memang sedang bermain baik di awal
musim. Ia dengan mudah membat lini depan Arsenal menjadi lebih tajam dan
mematikan. Tapi, masalah kedua yang menjadi alasan Özil bukanlah pemain terbaik
dunia pun terlihat: inkosisten.
Tanpa bias atau sejenisnya, terlihat Özil gagal menampilkan permainan
terbaiknya setiap minggunya. Saya ingat sekali ketika Arsenal berhadapan dengan
Manchester United di kali pertama di musim 2013-2014, Özil hamper tidak Nampak di
pertandingan itu. Performanya malah kalah bagus dengan Tomas Rosicky yang juga
menjadi bagian penting di Arsenal. Peran Aaron Ramsey juga menjadi faktor utama
mengapa Arsenal bisa begitu dominan di awal musim ini. Dengan begitu banyak gol
yang dicetak Ramsey, membuat permainan Arsenal secara keseluruhan tampak luar
biasa. Namun jika dilihat secara individu, Özil tidak sementereng yang lainnya.
Okay, Özil berhasil membuat banyak assist yang juga membantu Arsenal jadi lebih
baik, tapi apa ia melakukannya setiap minggu secara konsisten? Saya ragu ia
melakukannya. Kejadian dini hari tadi (21/2) ketika Bayern Muenchen datang ke
Emirates juga menjadi bukti yang menguatkan opini saya. Kemarahan Flamini pada Özil
juga bukan tidak berdasar. Jika dilihat pada tayangan ulang, Nampak Özil tidak
melakukan tugasnya dengan baik ketika bertahan. Apalagi ia ditugaskan untuk
menjaga pemain sekelas Arjen Robben. Mungkin Özil bukanlah pemain bertahan, ia
adalah seorang penyerang, tapi ketika timnya sedang bermain dengan sepuluh
orang, bahkan seorang Cristiano Ronaldo atau Lionel Messi pun akan lebih awas
dan bertahan dengan baik. Özil membiarkan Robben lepas untuk menerima umpan
dari Toni Kroos ke daerah yang sangat berbahaya, dan ia terlambat untuk
mengejar Robben. Selain itu, penalti nya yang begitu lemah juga menambah buruk
malam itu bagi Özil. Dan bagi saya, ini membuat saya semakin beranggapan bahwa,
mungkin Özil secara taktikal offense, adalah pemain yang luar biasa, tapi
secara keseluruhan taktikal kolektif, ia bukanlah pemain yang bisa diandalkan,
terutama ketika bertahan. Karna bagi saya, seorang pemain, sekreatif atau
sehebat apapun skillnya, ia harus bisa melakan tugasnya baik menyerang ataupun
bertahan.
Pemain kedua
yang akan coba saya lihat adalah Juan Mata. Layaknya Özil, Mata adalah seorang
pemain yang memiliki visi menyerang dan teknik yang hebat. Kemampuannya
mengatur tempo penyerangan dan melihat pergerakan rekan satu timnya, serta
umpannya yang bisa membongkar lini pertahanan lawan membuatnya menjadi salah
satu pemain hebat. Tapi mengapa Jose Mourinho lebih memilih Oscar untuk mengisi
posisi “nomor 10” di Chelsea? Juan Mata adalah tipikal pemain Spanyol: seorang
technician. Ia memiliki teknik yang superior, visi yang hebat, dan fleksibilitas
untuk bermain di beberapa posisi berbeda. Tapi ia bukanlah pemain yang memiliki kecepatan tinggi dan kemampuan bertahan yang hebat. Mata adalah salah satu pemain “nomor
10” klasik yang akan membantu meningkatkan kualitas tim secara ofensif. Tapi
mengapa ia gagal beradaptasi dengan permainan Jose Mourinho sehingga ia harus
rela digusur oleh Oscar sebelum akhirnya pindah ke Manchester United?
Jawabannya ada di penjelasan kelemahan Mata sebelumnya. Seperti yang sudah saya
sebutkan, Mata bukanlah pemain dengan kecepatan tinggi, dan kemampuan Mata
untuk menekan pemain lawan untuk merebut bola pun masih kalah jika dibandingkan
dengan Oscar. Semenjak kedatangan Mata di Chelsea, tiga manajer yang berbeda
menerapkan permainan tiga permainan yang berbeda pula. Namun kesamaan dari
ketiga manajer tersebut adalah mereka memberikan Mata kebebasan dari tugas
bertahan. Villas-Boas, Di Matteo, dan Benitez semuanya memberikan keleluasaan
bagi Mata dan memberikan tugas bertahan pada pemain lainnya seperti Ramires,
Lampard, dan Obi Mikel. Sedangkan di era Mourinho, semua pemain diwajikan untuk
berkontribusi dalam pertahanan, meskipun dilakukan di setengah area lawan. Ini
membuat pemain harus melakukan pressing dengan tujuan merebut bola dari lawan
secepat mungkin agar bisa kembali melakukan serangan. Dan disinilah masalah
untuk mata. Ketidakmampuan Mata untuk melakukan pressing dengan baik ketika di
tempatkan di “posisi nomor 10” membuatnya harus rela digusur oleh Oscar yang
memiliki kecepatan lebih baik sehingga bisa lebih cepat melakukan pressing
ketika kehilangan bola. Mata tidak mampu melakukan itu. Sedangkan ketika ia
dimainkan di sayap, ia juga tidak mampu untuk mengimbangin kecepatan pemain
sayap lawan sehingga ia tidak bisa cepat membantu full-back ketika bertahan,
tidak seperti Willian, Hazard, atau Schurlle yang memiliki kecepatan di sayap.
Ini membuatnya gagal memenuhi ekspektasi Jose Mourinho yang ingin timnya untuk
lebih proaktif dan tidak sekedar reaktif. Tanpa meragukan kemampuan Mata secara
teknis ataupun visi, tapi, sama seperti Özil, bertahan juga sama pentingnya
dengan menyerang. Dan Mata gagal bisa melakukan tugasnya secara keseluruhan.
Dan ketika ada pemain lain yang tidak kalah bagus dan mampu melakukan kedua
tugas itu bersamaan, dan apalagi Mata gagal beradaptasi dengan baik, maka
bangku cadangan bukanlah sesuatu yang aneh. Tapi sulit untuk melihat bagaimana
performa Mata di Manchester United karna baru kurang dari satu bulan ia
bergabung. Tapi Nampak perbedaan strategi antara Mourinho dan David Moyes
berdampak positif bagi Mata. Meskipun Mata bukanlah seorang pemain yang menjadi
tipikal pemain Manchester United, tapi nampak rencana Moyes untuk mem-provide
Mata dengan kebebasan dalam menyerang dan dari tugas bertahan, ia nampak akan
bisa menjadi pemain penting bagi Manchester United. Tapi ini bukanlah sebuah
garansi.
Artikel ini saya
buat pure hanya untuk membuktikan argument saya mengenai alasan dua manajer
kelas dunia seperti Jose Mourinho dan Carlo Ancelotti melepas pemain dengan
skill yang luar biasa dalam diri Mata dan Özil, bahwa mereka dilepas bukan
karna alasan non-teknis, tapi lebih karena alasan taktikal. Kedua pemain ini
bukan pemain yang gagal, hanya saja, kelemahan mereka membuat mereka tidak
mampu beradaptasi dengan baik atau menjalankan tugas mereka dilapangan secara
sempurna. Tapi secara universal, mereka membuat sepakbola lebih menarik.
Kehadiran mereka akan selalu ditunggu karena dengan kemampuan mereka, sepakbola
akan selalu terlihat mudah dan lebih menarik.
No comments:
Post a Comment