Semalam, sepakbola kembali
menyaksikan bagaimana uang bisa membeli piala, ketika Vincent Kompany
mengangkat trophy Barclays Premier League…………… Maaf, maksud saya, semalam
Manchester City berhasil mengukuhkan diri sebagai juara liga dan sekaligus
mengakhiri musim kompetisi 2013-2014 di Inggris. Oh iya, dan sekaligus
mengakhiri mimpi pendukung tim Soang Merah, aduh salah lagi, maksud saya,
Liverpool (dan Steven Gerrard (dan Luis ‘Cry Baby’ Suarez)), meraih gelar liga
ke 19 mereka. Tapi fokus saya bukan pada dua tim itu, tapi pada tim terbaik
(ketujuh) Inggris; Manchester United.
Sejujurnya, sangat menyakitkan
ketika saya, seorang pendukung Manchester United, harus menyaksikan orang-orang
berbaju biru langit mengangkat trofi yang musim lalu kami miliki, walaupun
sejujurnya ada rasa bahagia dan lega pula ketika saya sadari yang mengangkatnya
itu bukan seseorang dengan inisial depan S dan belakangnya teven Gerrard. Saya
lebih merelakan trofi itu dimenangkan oleh those money grabbers, MAKSUD SAYA
PEMAIN CITY, MAAFKAN KE-BIAS-AN SAYA YA, dibandingkan saya harus melihat Steven
Gerrard dan kroni nya yang berparade dan memberikan fans-fans mereka hak untuk membacot di kampus. Aku rapopo.
Awal musim sejujurnya saya sudah
memprediksi jika United akan mengalami musim yang sulit di bawah kepemimpinan,
sekarang mantan, manajer baru, David Moyes. Walaupun beliau ditunjuk langsung
oleh The Greatest British Manager of All Time, Sir Alex Ferguson, tapi banyak
sangsi dan tanda Tanya mengenai kemampuannya memimpin tim sebesar United,
melihat banyaknya kandidat lain yang memiliki rekam jejak lebih mengkilap
dibandingkan Moyes, yang tersedia di pasar manajer Eropa. Tapi walaupun saya
sudah mempersiapkan diri saya untuk musim yang buruk, tapi saya tidak mempersiapkan
diri saya untuk finish posisi TUJUH. Saya mengira, sejelek-jeleknya musim yang
diarungi United, setidak-tidaknya posisi 4 atau 5 adalah posisi terburuk yang
bisa United dapatkan. Tujuh itu keterlaluan. Tapi semua orang yang terlibat
dalam Manchester United Football Club itu sendiri harus mulai berkaca dan harus
mengambil tanggung jawab dalam musim yang luar biasa mengecewakan ini, bukan
David Moyes seorang.
Kekecawaan musim ini menurut saya
barasal dari kegagalan David Moyes untuk mengontrol dan memotivasi pemainnya,
kegagalan pemain untuk memotivasi diri mereka dan menghormati manajer mereka,
serta kegagalan petinggi klub untuk melakukan pembelian yang tepat ketika bursa
transfer dibuka. Ketiga hal ini, menurut saya, menjadi masalah yang muncul
sepanjang musim ini berjalan. David Moyes, meskipun dengan sedekade pengalaman
di Liga Inggris bersama Everton, gagal mendapatkan respect yang ia butuhkan
untuk memotivasi pemainnya untuk mengeluarkan kemampuan terbaik mereka di
lapangan untuk klub yang mereka bela. Diluar lapangan, muncul masalah
indisipliner, yang di era Alex Ferguson tidak mungkin pernah terjadi. Kalaupun
terjadi, pemain tersebut pasti sudah harus siap mengepak barang-barangnya untuk
pindah ke klub lain. Memang secara taktis, saya melihat sisi inkonsistensi
Moyes dalam meracik United. Fakta bahwa Moyes tidak pernah menurunkan starting
lineup yang sama di dua pertandingan berturut-turut memang menjadi faktor yang
cukup penting. Tapi yang mungkin orang-orang lain gagal untuk memahami adalah,
David Moyes bekerja dengan skuad yang sudah mulai menua digabung dengan pemain
yang kurang berpengalaman. It may not necessarily be a bad thing, pasti ada
positifnya, tapi fakta ini memaksa Moyes harus pintar-pintar dalam mengatur
timnya agar bisa tetap bugar dalam menghadapi empat kompetisi. Mungkin,
ketakutan Moyes akan timnya kehabisan bensin sebelum musim berakhir menjadi
boomerang ketika kebijakannya membuat timnya gagal menghasilkan hasil yang
diinginkan, dan pada akhirnya memaksa United untuk memutus kontrak kerjanya
jauh sebelum kontrak 6-tahun miliknya berakhir.
Pada era Sir Alex Ferguson, yang
saya lihat sepanjang kurang lebih 14 tahun mendukung United, pemain yang selama
ini dibeli selalu memiliki kriteria yang berbeda dibandingkan dengan
pemain-pemain klub lain. Pemain-pemain United selama ini adalah tipikal pemain
Britania Raya yang memiliki etos kerja yang kuat dan kemauan yang kuat, tidak
ada pemain dengan teknik luar biasa atau sesuatu yang terlalu fancy. Lihat
Fletcher, Carrick, Rooney, atau Berbatov, dulu, misalnya. Mereka bukan pemain
seperti Xavi, Iniesta, Modric atau siapapun itu. Mereka adalah pemain dengan
kualitas hebat, tapi bukan world class. Iya, saya memang berpendapat bahwa
Rooney bukan pemain kelas dunia seperti Ronaldo atau Messi. Tapi mereka mampu
untuk beradaptasi dan menyesuaikan diri mereka dengan taktik yang digunakan
oleh Sir Alex saat itu. Digabungkan dengan kemampuan Sir Alex untuk memotivasi
pemainnya, ia mampu membuat pemain-pemain dengan kualitas “Great” bergabung
dalam sebuah tim dengan kualitas “Amazing”. Dan itu yang David Moyes gagal
untuk lakukan. Ia memiliki pemain dengan kualitas, walaupun mungkin menurutnya,
kualitasnya tidak seperti yang ia harapkan, dan gagal menyatukan kepala-kepala
tersebut menjadi sebuah tim. Dan, sayangnya untuk Moyes, pemain-pemain tersebut
gagal untuk self-motivate diri mereka sendiri sehingga pemain-pemain dengan
kualitas “great” tersebut hanya mampu mengeluarkan setengah dari kemampuan
mereka yang sebenarnya dan hanya menjadi sebatas pemain dengan kualitas “okay”.
Dan itu mengapa posisi tujuh menjadi posisi United musim ini. Karna disitulah
tim dengan kualitas pemain “okay” mengakhiri musim.
Masalah di Old Trafford an di AON
Training Complex juga diperkeruh dengan ketidakmampuan seorang eksekutif klub,
Ed Woodward, untuk menggantikan kursi panas lainnya di bangku direktur klub
yang di tinggalkan oleh David Gill. David Moyes bukan satu-satunya orang yang
menjadi pusat perhatian seluruh pendukung United ketika musim dimulai, Ed
Woodward juga. Ketika David Gill, long serving director and one of the most
respected person in European football, memutuskan untuk mundur, Ed Woodward
memiliki tugas yang sama beratnya dengan tugas yang diemban oleh David Moyes.
Bisa dibilang, kesuksesan United di bursa transfer pasca Peter Kenyon itu
adalah tanggung jawab David Gill. Koneksi yang luas dan kemampuan bernegosiasi yang
mumpuni membuat United (hampir) selalu mendapatkan pemain yang diinginkan. Dan
ini membuat perhatian juga tertuju pada Woodward. Ketika United memilih David
Moyes, banyak yang berpendapat bahwa Moyes harus mendapatkan pemain-pemain
dengan kualitas yang luar biasa untuk membantunya dalam membangun tim United
yang baru, sebuah Manchester United nya David Moyes. Daftar panjang
pemain-pemain kelas dunia yang ingin didatangkan ke Old Traffor hanya sekedar
menjadi daftar tanpa ada hasil. Satu-satunya tangkapan United di bursa transfer
musim panas “hanya” seorang Moruanne Fellaini. Pemain bagus, tapi bukan yang
berada di daftar teratas. Dengan harga keterlaluan mahal pula. Musim dingin,
agak membaik, Juan Mata datang dengan harga yang sangat fantastis. Itu juga
David Gill dan Sir Alex harus ikut turun tangan agar transfer ini terealisasi. Imbasnya, David Moyes mengalami kesulitan
dalam membangun tim yang ia harapkan. Ya, walaupun itu tidak bisa dijadikan
alasan karna ia masih memiliki tim yang berhasil menjuarai liga dengan jarak 15
poin di musim sebelumnya.
Musim 2013-2014 akhirnya
berakhir. Bagi seorang pendukung United seperti saya, ada rasa lega ketika
akhirnya musim ini selesai dan bursa transfer musim panas akan datang. Manajer
baru akan mengambil alih dan pastinya pemain baru juga akan datang. Harapan
baru untuk musim depan sangat besar. Walaupun dengan sangat berat hati, saya
harus membiasakan diri untuk tidak menonton Liga Champion, paling tidak untuk
satu tahun kedepan, tapi ini membawa blessing in disguise bagi United, karna
ini akan membuat United dapat fokus pada mengembalikan Liga Champions di musim
berikutnya tanpa harus ter-distract oleh kompetisi lain yang pasti akan
menuntut manajer berikutnya untuk menghemat tenaga atau melakukan rotasi
berlebihan seperti yang dilakukan oleh Moyes, musim ini. Siapapun itu, entah
Ryan Giggs tetap dipertahankan, Luis van Gaal atau siapapun, musim depan pasti
akan menjadi sebuah musim yang sangat menantang. Tapi untuk sementara ini, ada
baiknya saya mengucapkan selamat kepada juara liga musim ini, Manchester City.
Sampai bertemu di musim depan. And we WILL be back!
Glory Glory Man United!
No comments:
Post a Comment