5/12/2014

Season Review

Semalam, sepakbola kembali menyaksikan bagaimana uang bisa membeli piala, ketika Vincent Kompany mengangkat trophy Barclays Premier League…………… Maaf, maksud saya, semalam Manchester City berhasil mengukuhkan diri sebagai juara liga dan sekaligus mengakhiri musim kompetisi 2013-2014 di Inggris. Oh iya, dan sekaligus mengakhiri mimpi pendukung tim Soang Merah, aduh salah lagi, maksud saya, Liverpool (dan Steven Gerrard (dan Luis ‘Cry Baby’ Suarez)), meraih gelar liga ke 19 mereka. Tapi fokus saya bukan pada dua tim itu, tapi pada tim terbaik (ketujuh) Inggris; Manchester United.
Sejujurnya, sangat menyakitkan ketika saya, seorang pendukung Manchester United, harus menyaksikan orang-orang berbaju biru langit mengangkat trofi yang musim lalu kami miliki, walaupun sejujurnya ada rasa bahagia dan lega pula ketika saya sadari yang mengangkatnya itu bukan seseorang dengan inisial depan S dan belakangnya teven Gerrard. Saya lebih merelakan trofi itu dimenangkan oleh those money grabbers, MAKSUD SAYA PEMAIN CITY, MAAFKAN KE-BIAS-AN SAYA YA, dibandingkan saya harus melihat Steven Gerrard dan kroni nya yang berparade dan memberikan fans-fans mereka hak untuk membacot di kampus. Aku rapopo.
Awal musim sejujurnya saya sudah memprediksi jika United akan mengalami musim yang sulit di bawah kepemimpinan, sekarang mantan, manajer baru, David Moyes. Walaupun beliau ditunjuk langsung oleh The Greatest British Manager of All Time, Sir Alex Ferguson, tapi banyak sangsi dan tanda Tanya mengenai kemampuannya memimpin tim sebesar United, melihat banyaknya kandidat lain yang memiliki rekam jejak lebih mengkilap dibandingkan Moyes, yang tersedia di pasar manajer Eropa. Tapi walaupun saya sudah mempersiapkan diri saya untuk musim yang buruk, tapi saya tidak mempersiapkan diri saya untuk finish posisi TUJUH. Saya mengira, sejelek-jeleknya musim yang diarungi United, setidak-tidaknya posisi 4 atau 5 adalah posisi terburuk yang bisa United dapatkan. Tujuh itu keterlaluan. Tapi semua orang yang terlibat dalam Manchester United Football Club itu sendiri harus mulai berkaca dan harus mengambil tanggung jawab dalam musim yang luar biasa mengecewakan ini, bukan David Moyes seorang.
Kekecawaan musim ini menurut saya barasal dari kegagalan David Moyes untuk mengontrol dan memotivasi pemainnya, kegagalan pemain untuk memotivasi diri mereka dan menghormati manajer mereka, serta kegagalan petinggi klub untuk melakukan pembelian yang tepat ketika bursa transfer dibuka. Ketiga hal ini, menurut saya, menjadi masalah yang muncul sepanjang musim ini berjalan. David Moyes, meskipun dengan sedekade pengalaman di Liga Inggris bersama Everton, gagal mendapatkan respect yang ia butuhkan untuk memotivasi pemainnya untuk mengeluarkan kemampuan terbaik mereka di lapangan untuk klub yang mereka bela. Diluar lapangan, muncul masalah indisipliner, yang di era Alex Ferguson tidak mungkin pernah terjadi. Kalaupun terjadi, pemain tersebut pasti sudah harus siap mengepak barang-barangnya untuk pindah ke klub lain. Memang secara taktis, saya melihat sisi inkonsistensi Moyes dalam meracik United. Fakta bahwa Moyes tidak pernah menurunkan starting lineup yang sama di dua pertandingan berturut-turut memang menjadi faktor yang cukup penting. Tapi yang mungkin orang-orang lain gagal untuk memahami adalah, David Moyes bekerja dengan skuad yang sudah mulai menua digabung dengan pemain yang kurang berpengalaman. It may not necessarily be a bad thing, pasti ada positifnya, tapi fakta ini memaksa Moyes harus pintar-pintar dalam mengatur timnya agar bisa tetap bugar dalam menghadapi empat kompetisi. Mungkin, ketakutan Moyes akan timnya kehabisan bensin sebelum musim berakhir menjadi boomerang ketika kebijakannya membuat timnya gagal menghasilkan hasil yang diinginkan, dan pada akhirnya memaksa United untuk memutus kontrak kerjanya jauh sebelum kontrak 6-tahun miliknya berakhir.
Pada era Sir Alex Ferguson, yang saya lihat sepanjang kurang lebih 14 tahun mendukung United, pemain yang selama ini dibeli selalu memiliki kriteria yang berbeda dibandingkan dengan pemain-pemain klub lain. Pemain-pemain United selama ini adalah tipikal pemain Britania Raya yang memiliki etos kerja yang kuat dan kemauan yang kuat, tidak ada pemain dengan teknik luar biasa atau sesuatu yang terlalu fancy. Lihat Fletcher, Carrick, Rooney, atau Berbatov, dulu, misalnya. Mereka bukan pemain seperti Xavi, Iniesta, Modric atau siapapun itu. Mereka adalah pemain dengan kualitas hebat, tapi bukan world class. Iya, saya memang berpendapat bahwa Rooney bukan pemain kelas dunia seperti Ronaldo atau Messi. Tapi mereka mampu untuk beradaptasi dan menyesuaikan diri mereka dengan taktik yang digunakan oleh Sir Alex saat itu. Digabungkan dengan kemampuan Sir Alex untuk memotivasi pemainnya, ia mampu membuat pemain-pemain dengan kualitas “Great” bergabung dalam sebuah tim dengan kualitas “Amazing”. Dan itu yang David Moyes gagal untuk lakukan. Ia memiliki pemain dengan kualitas, walaupun mungkin menurutnya, kualitasnya tidak seperti yang ia harapkan, dan gagal menyatukan kepala-kepala tersebut menjadi sebuah tim. Dan, sayangnya untuk Moyes, pemain-pemain tersebut gagal untuk self-motivate diri mereka sendiri sehingga pemain-pemain dengan kualitas “great” tersebut hanya mampu mengeluarkan setengah dari kemampuan mereka yang sebenarnya dan hanya menjadi sebatas pemain dengan kualitas “okay”. Dan itu mengapa posisi tujuh menjadi posisi United musim ini. Karna disitulah tim dengan kualitas pemain “okay” mengakhiri musim.
Masalah di Old Trafford an di AON Training Complex juga diperkeruh dengan ketidakmampuan seorang eksekutif klub, Ed Woodward, untuk menggantikan kursi panas lainnya di bangku direktur klub yang di tinggalkan oleh David Gill. David Moyes bukan satu-satunya orang yang menjadi pusat perhatian seluruh pendukung United ketika musim dimulai, Ed Woodward juga. Ketika David Gill, long serving director and one of the most respected person in European football, memutuskan untuk mundur, Ed Woodward memiliki tugas yang sama beratnya dengan tugas yang diemban oleh David Moyes. Bisa dibilang, kesuksesan United di bursa transfer pasca Peter Kenyon itu adalah tanggung jawab David Gill. Koneksi yang luas dan kemampuan bernegosiasi yang mumpuni membuat United (hampir) selalu mendapatkan pemain yang diinginkan. Dan ini membuat perhatian juga tertuju pada Woodward. Ketika United memilih David Moyes, banyak yang berpendapat bahwa Moyes harus mendapatkan pemain-pemain dengan kualitas yang luar biasa untuk membantunya dalam membangun tim United yang baru, sebuah Manchester United nya David Moyes. Daftar panjang pemain-pemain kelas dunia yang ingin didatangkan ke Old Traffor hanya sekedar menjadi daftar tanpa ada hasil. Satu-satunya tangkapan United di bursa transfer musim panas “hanya” seorang Moruanne Fellaini. Pemain bagus, tapi bukan yang berada di daftar teratas. Dengan harga keterlaluan mahal pula. Musim dingin, agak membaik, Juan Mata datang dengan harga yang sangat fantastis. Itu juga David Gill dan Sir Alex harus ikut turun tangan agar transfer ini terealisasi.  Imbasnya, David Moyes mengalami kesulitan dalam membangun tim yang ia harapkan. Ya, walaupun itu tidak bisa dijadikan alasan karna ia masih memiliki tim yang berhasil menjuarai liga dengan jarak 15 poin di musim sebelumnya.
Musim 2013-2014 akhirnya berakhir. Bagi seorang pendukung United seperti saya, ada rasa lega ketika akhirnya musim ini selesai dan bursa transfer musim panas akan datang. Manajer baru akan mengambil alih dan pastinya pemain baru juga akan datang. Harapan baru untuk musim depan sangat besar. Walaupun dengan sangat berat hati, saya harus membiasakan diri untuk tidak menonton Liga Champion, paling tidak untuk satu tahun kedepan, tapi ini membawa blessing in disguise bagi United, karna ini akan membuat United dapat fokus pada mengembalikan Liga Champions di musim berikutnya tanpa harus ter-distract oleh kompetisi lain yang pasti akan menuntut manajer berikutnya untuk menghemat tenaga atau melakukan rotasi berlebihan seperti yang dilakukan oleh Moyes, musim ini. Siapapun itu, entah Ryan Giggs tetap dipertahankan, Luis van Gaal atau siapapun, musim depan pasti akan menjadi sebuah musim yang sangat menantang. Tapi untuk sementara ini, ada baiknya saya mengucapkan selamat kepada juara liga musim ini, Manchester City. Sampai bertemu di musim depan. And we WILL be back!

Glory Glory Man United!

No comments:

Post a Comment